ACT – MRI Latih 150 Relawan se-Sulawesi

Sulselku – Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) menggelar Pendidikan Dasar (Diksar) untuk Relawan dengan tajuk “Disaster Management Basic Training” disingkat DMBT yang dilaksanakan di Hutan Pendidikan UNHAS, Kec. Cenrana, Kab. Maros, Prov. Sulawesi Selatan.

Diksar ini terlaksana berkat kerjasama antara ACT, MRI dan Disaster Management Institute of Indonesia (DMII). Kegiatan tersebut berlangsung selama 4 hari dimulai pada tanggal 27 hingga 30 Juni 2019 itu tak hanya didominasi oleh laki-laki, namun juga diikuti oleh beberapa relawan perempuan dari berbagai profesi.

Adapun acara pembukaan DMBT ini dilaksanakan di Aula Kantor Camat Cenrana pada Kamis, 27/08/2019 pukul 10.00 WITA. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Akademi Relawan Indonesia (ARI) Bpk. Andri Perdana, Kepala Cabang ACT Sulsel Bpk. Faizal Agunisman, Perwakilan Divisi Edukasi Pelatihan dan Pengembangan DMII-ACT Bpk. Yadi Frans Risyadi, Ketua Umum MRI Sulsel Bpk. Miswar Arifin, pihak BPBD dan TNI.

Dalam sambutannya, Kepala Cabang ACT Sulsel, Faizal mengatakan bahwa acara seperti ini sangat penting untuk meningkatkan kompetensi bagi para relawan, apalagi saat ini relawan MRI – ACT yang telah tersebar di 24 Kab/Kota se Sulsel.

“Alhamdulillah, kami sangat senang dengan diadakannya kegiatan ini dan semoga ini menjadi pembuka untuk agenda kerelawanan lainnya di Sulawesi Selatan. Apalagi saat ini relawan MRI telah tersebar di 24 Kab/Kota Sulawesi Selatan. Dan kegiatan ini sangat bernilai positif untuk peningkatan kompetensi para relawan MRI yang biasanya mereka turun langsung di lokasi bencana, sehingga mereka lebih paham atas penanganan terhadap situasi yang dihadapi” ujar Faizal.

Kegiatan ini dihadiri oleh 150 orang relawan terpilih dari MRI yang berasal dari berbagai provinsi yang ada di pulau Sulawesi, termasuk didalamnya perwakilan dari 24 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan.

Ketua Umum MRI Sulawesi Selatan, Miswar Arifin mengakui bahwa pelatihan diksar relawan ACT MRI kali ini adalah yang pertama diadakan di Sulawesi dan para peserta kelihatan sangat antusias.

“Ini adalah diksar pertama yang dilaksanakan di Sulawesi, dan Alhamdulillah disambut dengan sangat antusias oleh para relawan. Respon mereka terhadap diksar ini membuktikan bahwa masyarakat Sulawesi khususnya anak muda, punya darah kemanusiaan yang tinggi” ungkapnya.

Terlaksananya diksar relawan DMBT ini, selain melatih relawan dalam hal penanggulangan bencana, juga membentuk jiwa kerelawanan pada setiap peserta, terlebih dalam hal kepedulian terhadap sesama.

Miswar mengatakan bahwa, jiwa kerelawanan adalah modal besar bagi siapa pun untuk menghadirkan perubahan dan pembangunan untuk masyarakat luas dan bangsa.

“Karna sama-sama kita ketahui, bahwa jiwa kerelawanan dan sikap kepedulian selalu saja sukses membawa perubahan. Maka, jiwa kerelawanan dan rasa kepedulian adalah modal besar bagi perubahan dan pembangunan bangsa.” jelas miswar.

Miswar menjelaskan bahwa, terlaksananya diksar ini tak terlepas dari pentingnya setiap relawan menguasai rescue. Mengingat kenyataan bahwa Indonesia berada di jalur potensi tinggi bencana alam. Mulai dari gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, kebakaran hutan, hingga bencana banjir yang rutin datang sepanjang musim hujan di mayoritas wilayah Indonesia. Dengan begitu, Miswar berharap, Diksar “Disaster Management” kali ini bisa membentuk loyalitas, kapasitas, dan potensi setiap relawan.

“Di sini teman-teman relawan semua belajar agar kuat secara mental, fisik, ataupun konsep. Sebab relawan juga harus berkonsep, apalagi dalam menangani peristiwa kebencanaan di mana manusia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya,” jelas Miswar

Agar kontennya menarik untuk dipahami, Diksar Relawan MRI dikemas dalam beberapa bentuk pembinaan. Dimulai dari pembelajaran dalam seminar, pelatihan fisik, hingga simulasi aksi. Dalam hal ini, BPBD juga diundang untuk ikut membersamai tim DMII membawa materi seputar kebencanaan dan penanggulangannya.

Andri selaku Kepala ARI memaparkan bahwa kegiatan ini akan berlangsung selama 4 hari.

“In syaa Allah kegiatan ini akan berlangsung hingga hari ahad, 30 Juni” jelas, Andri.

Rencananya, akan ada banyak kegiatan dan penbinaan yang diberikan untuk relawan. Diantaranya, belajar mengatur renjana perjalanan, belajar mengenali dasar-dasar navigasi darat, dan bahkan akan diajari keterampilan dasar untuk bertahan hidup dikondisi alam terbuka.

“In syaa Allah, kegiatan ini adalah ikhtiar terbaik dalam melahirkan lebih banyak lagi relawan-relawan berkualitas yang siap mental, fisik, maupun konsep kepeduliannya.” tutur Andri.

Komentar Anda ?

Leave a Reply