Begini Penjelasan Prabowo Soal Tegurannya ke Media Massa

Sulselku – Pernyataan calon presiden nomor urut dua Prabowo Subianto yang diarahkan ke media massa kembali menjadi polemik. Prabowo Subianto mempersoalkan berita media massa yang tidak menyebut jumlah peserta aksi reuni alumni 212 sebanyak 11 juta orang, bahkan dia menuding banyak media massa sekarang menjadi bagian dari upaya memanipulasi demokrasi.

Koordinator juru bicara kampanye Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut pernyataan Prabowo Subianto sebagai teguran. Tetapi sebelum menjelaskan argumentasi, Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan bahwa dia akan memanggil Prabowo Subianto dengan sebutan “mas.”

“Oh ya, saya ingin sampaikan kepada publik, panggil capres @prabowo dengan panggilan “Mas” saja ya. Beliau lebih suka dipanggil Mas Prabowo ketimbang Pak Prabowo. Dan, panggil cawapres @sandiuno dengan panggilan Bang Sandi. Terimakasih,” kata Dahnil Anzar Simanjuntak melalui akun Twitter @Dahnilanzar.

“Kenapa Mas @prabowo menegur media-media yang tidak bekerja sebagaimana mestinya sebagai pilar demokrasi? Sederhana, beliau tidak mau kualitas demokrasi kita dirusak oleh para pemilik media yang “menggunakan” media mereka sekedar menjadi alat propoganda politik dan kebohongan,” Dahnil Anzar Simanjuntak menambahkan.

Menurut Dahnil Anzar Simanjuntak, Prabowo Subianto mendukung jurnalis-jurnalis idealis.

“Empati dan simpati Mas @prabowo terhadap para jurnalis yang terus merawat idealismenya. Beliau, dukung full jurnalis-jurnalis idealis yang berusaha tetap menjadi pilar demokrasi yang berkualitas tinggi,” kata Dahnil Anzar Simanjuntak.

Pernyataan Prabowo Subianto ditanggapi oleh pengamat politik Sirojudin Abbas. Menurut laporan, pernyataan Prabowo Subianto tentang media melakukan kebohongan dan memanipulasi demokrasi dinilai untuk menggerus kepercayaan masyarakat pada media arus utama.

“Hal itu juga dilakukan Donald Trump dan sejumlah politisi di Eropa. Ada dua alasan, pertama mendestabilisasi kepercayaan publik terhadap media arus utama,” ujar Sirojudin Abbas.

Prabowo Subianto sebagai figur nasional dinilainya dapat membuat masyarakat, khususnya kelas bawah, tidak dapat membedakan media kredibel dan yang tidak, apabila media arus utama diberi label seperti itu.

“Informasi yang disampaikan media nilainya bisa turun serendah media abal-abal yang diawaki orang tidak kompeten,” kata Abbas.

Menurut dia, selama ini strategi yang digunakan oleh Prabowo adalah menebar ketakutan untuk membuat pemilih yang belum menentukan pilihannya merapat kepada pasangan itu.

Kubu Prabowo dinilainya merupakan populis sayap kanan yang salah satu cirinya adalah memainkan aspek emosional seperti kekhawatiran kesulitan ekonomi serta korupsi.

Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menampik menggunakan strategi yang disebutkan itu, dan mengklaim menjalankan kampanye yang baik untuk memenangkan hati masyarakat.

“Saya bisa pastikan dari kami BPN tidak memainkan itu. One man one vote, jadi dimenangkan hatinya dengan cara yang baik,” ujar anggota Badan Pemenangan Nasional Intan Fauzi.

Menurut Intan, selama ini apabila terdapat pandangan kubu Prabowo menyerang sementara kubu Jokowi bertahan, hal tersebut menunjukkan kelihaian dan kedewasaan dalam berdemokrasi.

Komentar Anda ?

Leave a Reply