Belajar Kehidupan Muslim Di Jerman

Oleh : Zulhijriani

Pengurus Bidang KAMMI Wilayah Sulselbar

Sulselku – Langit berlin cerah hari itu, dengan suhu 18 derajat summer serasa cukup dingin bagi kami yang berasal dari negara tropis . Satu jam lebih perjalanan dari Schipol Internasional Airport (Amsterdam) menuju Berlin, udara cukup sejuk menyambut kedatangan kami .

Tanggal 8 Juli rombongan Program Study Life Muslim in Germany 2018 oleh Gouthe-Intitut Indonesia tiba di Jerman. Program ini memberikan kesempatan kepada kami, 14 intelektual muda muslim Indonesia untuk belajar tentang kehidupan muslim di negeri ini.

Saya Zulhijriani (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar) sebagai salah satu peserta program ini sangat bersyukur dapat terpilih sebagai peserta. Tidak mudah untuk terpilih dalam program ini karena terdapat beberapa tahapan seleksi dan tentunya kita bersaing dengan partisipan dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar belakang (dosen, peneliti, perwakilan organisasi muslim dan jurnalis). Di awal cukup terkejut karena ternyata saya adalah satu-satunya peserta dari wilayah Indonesia Timur.

Dari tanggal 8 hingga 21 juli 2018 kami mengikuti beberapa workshop yang membahas tentang topik ilmiah, religius community dan konteks sosial politik kehidupan muslim di sana.

Termasuk mengenal beberapa kampus yang memiliki fokus Islamic Studies di Freie Universitat Berlin, Universitat Gottingen, dan Universitat Hamburg.

Selain itu kami melakukan kunjungan ke beberapa mesjid dan komunitas Muslim termasuk Mesjid Al Falah Berlin (Indonesisches Weisheits und Kultrucentrum) yang selama ini memberikan pelayanan terhadap masyarakat muslim Indonesia di Berlin, mesjid ini memiliki sekitar 600 jamaah dan bisa mencapai 1.000 orang pada hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha, yang kebanyakan mahasiswa.

Berkunjung ke tiga kota di jerman (Berlin, Gottingen dan Hamburg) dengan publik transportasi membuat saya cukup terkesan bahwa hampir di setiap stasiun saya dapat melihat Muslimah berjilbab yang sebelumnya cukup sulit saya temui di negara Minoritas Muslim.Menggambarkan bahwa kehidupan muslim sudah berlangsung cukup lama di negeri ini.

Teringat pertemuan dengan Khadijah (Muslimah Jerman) yang sempat saya temui di Universitat Gottingen, awal masuk kantin kampus dia langsung melempar senyuman karena melihat kami berjilbab, bertukar salam dan berbincang singkat. Selalu begitu hangat obrolan dengan saudara muslim kita di sana, tahulah bahwa berbeda latarbelakang bangsa, bahasa dan ras namun kita semua bersaudara karena Islam .

Seperti hangatnya sambutan mereka ketika kami mengunjungi mesjid-mesjid dan komunitas muslim di beberapa kota.

Jumlah Muslim di Jerman kurang lebih 4 juta dari total populasi 82 juta jiwa penduduk. Dimana sejak tahun 1960an pasca Perang Dunia Ke 2 formal Guest Worker yang mendatangkan pekerja dari Turki, Maroko dan Yugoslavia kehidupan muslim mulai hadir di negeri ini.

Satu isu yang cukup sering kami diskusikan juga adalah keputusan negara ini membuka gerbangnya untuk menerima pengungsi Syiria di tahun 2015 di saat banyak negara menolak mereka.

Salah satu kesempatan istimewa bagi kami adalah dapat bertemu dan berdiskusi langsung dengan bagian anggota Parlemen, Kementrian Dalam dan Luar Negeri Jerman yang tentu saja memberikan kami banyak gambaran tentang kehidupan Muslim di Jerman dan konteks sosial politik dari pemerintah sendiri.

Saya berharap teman-teman dari Indonesia Timur terutama makassar bisa semangat untuk ikut berkompetisi dalam forum serupa, dan semoga bisa menjadi bagian dari LMG tahun berikutnya.

Komentar Anda ?

Leave a Reply