Belajar Lebih Ikhlas di Idul Adha

Oleh Yanuardi Syukur

Idul Adha adalah bulan pengorbanan. Kisahnya dimulai ketika Nabi Ibrahim as bermimpi bahwa dalam mimpinya ia menyembelih anaknya. “Maka, bagaimana pendapatmu?” tanya beliau pada anaknya, Ismail as.

“Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,” jawab Ismail as, “Insya Allah engkau akan mendapati aku dalam keadaan yang berserah diri.

Tidak mudah bagi seorang ayah untuk mengorbankan anaknya, apalagi itu anak yang telah lama ditunggu-tunggu kehadirannya. Asal ceritanya dari mimpi.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa harus percaya mimpi? Dalam Islam, mimpi juga bisa menjadi sarana untuk menyampaikan kebenaran. Nabi Yusuf as, misalnya, pernah bermimpi ketika ia berkata kepada ayahnya bahwa “saya melihat “ahada ‘asyara kaukaban” (sebelas bintang) dan matahari dan bulan sujud kepada Yusuf as.

Jadi, cerita pengorbanan–yang kelak menjadi syariat Idul Qurban–ini tidak lepas dari mimpi. Mimpinya orang saleh. Mimpinya orang yang hatinya itu terpaut kepada Rabb-nya. Mimpi orang saleh umumnya mengandung kebenaran.

Maka, ketika tiba masanya waktu penyembelihan, tak lama kemudian tubuh Ismail as diganti dengan seekor domba, dan kemudian Ismail selamat dari itu. Sejak itu, maka upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita cintai, apa yang kita sayangi.

Di mata Ibrahim as, anaknya Ismail as adalah orang yang disayanginya. Sudah bertahun-tahun ia menunggu kelahiran anak tersebut, dan kini setelah ia beranjak dewasa ia dapat perintah untuk menyembelih. Tapi, perintah Tuhan selalu ada maknanya, selalu ada sesuatu yang kadang tidak dipahami manusia jika sekedar dilihat dengan mata biasa.

Idul Qurban yang diperingati oleh semua muslim sejatinya adalah momentum untuk kembali mendekatkan diri kepada-Nya. Seorang muslim dapat berkontemplasi apa yang telah dilakukannya dalam setahunan yang lalu. Apa yang kurang harus ia lengkapi, dan apa yang masih lemah harus ia perkuat. Iman kepada-Nya, ibadah yang hanya diniatkan untuk mendapatkan ridha-Nya, apakah sudah berjalan dengan baik tanpa ada keinginan untuk dilihat (riya)?

Idul Qurban mengajarkan untuk lebih ikhlas dalam menjalani hidup. Terkadang ada saja hal-hal yang tidak enak kita dapatkan, tapi begitulah hidup. “Hidup tak selamanya indah, langit pun tak selalunya cerah,” begitu kata sebuah lagu. Maka, menjalani hidup dengan sepenuh ikhlas, dan yakin bahwa semua yang kita alami pasti ada hikmahnya, adalah penting untuk itu.

Kebiasaan untuk merutuki takdir. Kebiasaan untuk menggerutu. Kebiasaan untuk mencela orang lain. Membully orang lain yang berbeda, itu harus diakhiri. Tak ada untungnya memendam rasa benci, walaupun kebencian itu dibalut dengan semangat kritis kepada orang lain. Ingatlah, bahwa apa yang kita lakukan–baik atau buruknya–akan beresonansi kepada orang lain.

Maka, membiasakan sharing sesuatu yang baik itu penting itu sangat penting, dan berupaya untuk terus ikhlas bahkan untuk apa-apa yang kita tidak senangi, adalah juga penting agar kita tetap tegar menjalani kehidupan yang terkadang “antara harapan dan kenyataan tidak selamanya sinkron.”*

Depok, 11 Agustus 2019

Komentar Anda ?

Leave a Reply