Erwin “Bernyanyi” Sebut Sejumlah Nama Pejabat

Sulselku – Mantan kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkot Makassar, Erwin Syarifuddin Haiya “bernyanyi” saat menjalani pemeriksaan di Mapolda Sulsel. Yang dilakukan oleh tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel.
.
Sejumlah nama pejabat disebut ikut keciptaran dana dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK) dan Uang Makan Minum (Mamin), di lingkup BPKAD Pemkot Makassar. Serta kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, jika “nyanyian” tersangka Erwin Syafruddin Haiyya terhadap sejumlah pejabat-pejabat masih harus dibuktikan. “Itu hak dari tersangka melakukan “nyanyian”, tapi yang pastinya kita punya aturan main sesuai dengan petunjuk KUHAP. Kita masih harus membuktikan nyanyian itu,” ujar Dicky Sondani, Jumat (6/4).

Ia mengakui jika nama-nama yang disebut oleh tersangka juga sudah dimintai klarifikasinya dan masih membutuhkan pembuktian sesuai dengan dua alat bukti yang diatur dalam KUHAP.

Sesuai dengan Pasal 17 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dalam menentukan seseorang menjadi tersangka minimal memiliki dua alat bukti. “Sesuai Pasal 17 KUHAP, minimal dua alat bukti baru bisa dijadikan tersangka,” katanya.

Selain itu, ia juga mengaku jika pihaknya masih menunggu petunjuk jaksa, apalagi dalam kasus Erwin Haiyya prosesnya sudah dilakukan pelimpahan tahap satu.

Dikonfirmasi terpisah Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sulsel, Salahuddin, mengatakan bila berkas perkara tersebut masih sementara diteliti. “Berkasnya masih sementara diteliti oleh jaksa peneliti,” pungkasnya.

Jaksa kata Salahuddin, masih memeriksa kelengkapan berkas perkara tersebut. Apakah syarat formil dan materil sudah terpenuhi, atau masih ada yang belum lengkap.

Diketahui dalam kasus ini tersangka Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkot Makassar, Erwin Syafruddin Haiyya. Diduga telah melakukan order fiktif untuk kepentingan pribadi. Akibat dari perbuatannya negara mengalami kerugian hingga Rp300 juta.

Dalam kasus ini juga ErwinSyafruddin Haiyya disangkakan telah melanggar pasal 12 Huruf i UU No. 20 Tahun 2001 tentang perubahaan UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penggeledahan dilakukan awal Januari lalu, ditemukan uang sebanyak Rp300 juta dari ruang BPKAD Pemkot Makassar. Uang itu merupakan uang setoran dari proyek pengadaan yang dilakukan tersangka.

Uang pengadaan sebesar 95 persen, diduga dikantongi oleh tersangka sendiri. Sedangkan 5 persennya lagi diberikan kepada pemilik perusahaan pemenang lelang, yang diduga direkayasa oleh tersangka.

Selain uang Rp300 juta tersebut, penyidik Tipikor Polda Sulsel, kini masih terus menelusuri serta mendalami uang Rp700 juta yang disita dari ruang BPKAD Pemkot Makassar. Beberapa waktu lalu sebesar Rp1 miliar lebih yang sebagian ada uang dengan pecahan mata uang asing.

Komentar Anda ?

Leave a Reply