Ini Yang Masih Jadi Persoalan Kesehatan di Indonesia


Sulselku – Kementerian Kesehatan masih banyak menemukan persoalan kesehatan dan kependudukan yang membelit masyarakat Indonesia. Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek mengatakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah mesti berkolaborasi mengurai persoalan tersebut demi mewujudkan manusia berkualitas.

Menurut dia, Kementerian menaruh perhatian serius terhadap stunting dan tuberculosis (TBC). Nila menuturkan, buruknya imunisasi berkorelasi tinggi mendongkrak kasus stunting.

“Faktanya saat ini dari 100 balita yang ada, 30 di antaranya terkena stunting,” kata Nila F Moeloek usai acara pembukaan Rakernas Kependudukan di Mahligai Pancasila, Kota Banjarmasin, Jumat malam (9/3).

Nila mengasumsikan, jika satu kepala keluarga memiliki sepuluh anak, ada kemungkinan tiga anaknya terkena stunting. Asumsi lainnya, kata dia, jika satu keluarga punya anak tiga, maka satu anak terkena stunting.

“Ini problem kita bersama, sebab stunting dampaknya luar biasa, selain kecerdasannya kerdil, juga mengganggu kesehatan lainnya. Produktivitas juga terganggu,” ujarnya.
Adapun angka penderita penyakit TBC di Indonesia menempati posisi dua terbesar setelah India. Nila justru bertanya-tanya kenapa Indonesia menyumbang penderita TBC terbanyak kedua.

Untuk itu, kata Nila, kondisi yang tak sehat ini harus diperbaiki bersama-sama, semuanya harus bergerak. Ia menyinggung masih buruknya sanitasi, air bersih, rumah yang tak sehat, lingkungan, dan perilaku yang tak sehat. Ia mengusulkan ada sinergi pembangunan infrastruktur fisik diparalelkan dengan infrastruktur sosial.

Selain itu, Nila menjelaskan, masih banyak prevalensi tekanan darah tinggi, yang akan berujung meningkatkan penyakit tidak menular. Mengutip data Dewan Kesehatan Nasional, dia berkata, penyakit tak menular dan penyakit jantung menyerap dana BPJS yang sangat tinggi.

Persoalan kesehatan lainnya di Papua daerah pedalaman Merauke, masih dijumpai ibu yang melahirkan sendiri dipingit oleh keluarga tanpa ada bidan dan tanpa ditemani suami. Perlakuan manusia yang tinggal di hutan berbeda dengan kondisi di kota besar.

Kasus pernikahan dini pun masih marak dan minimnya anak yang memili akta kelahiran.

“Karena kita punya peluang bonus demografi hingga 2035. Peluang ini bisa hilang. Kita harus membuat penduduk produktif,” tegasnya. Saat ini, kata Nila, 150-an juta penduduk Indonesia berusia produktif dengan asumsi 1 dari 4 penduduk Indonesia adalah pemuda.

“Diharapkan jadi manusia produktif.”

Kegiatan Rakernas Kependudukan di Banjarmasin diselenggarakan pada 9-11 Maret 2018. Acara pembukaan dihadiri Asisten Pemerintah Pemprov Kalsel Siswansyah, Wakil Wali Kota Banjarmasin, Dirjen Sumber Daya IPTEK, Kepala Badan Kependudukan Nasional serta Ketua Koalisi Kependudukan se-Indonesia.

Komentar Anda ?

Leave a Reply