Kampung Pemburu Dollar Masih Jadi Misteri

Sulselku – Tumpukan sampah berserakan di lahan yang cukup luas di sebuah kampung di sudut utara Kabupaten Bogor. Bau sampah memang tidak begitu menyengat, tapi cukup membuat mereka yang melewatinya berlumuran kotor.

Ada saung-saung yang digunakan untuk menginap bagi mereka yang mencari sampah di kala malam hari. Uniknya, dalam saung-saung yang seadanya itu berkibar tinggi bendera Amerika Serikat, bukan sang Merah Putih. Entah siapa yang memasang dan apa motifnya.

Dalam tumpukan sampah di sana, bila beruntung mereka akan mendapatkan pundi-pundi dolar Amerika Serikat. Tak hanya dolar, kadang masyarakat juga bisa mendulang yen, yuan, dolar Australia, hingga euro.

Kawasan itu adalah Kampung Parung Dengdek, Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Bogor. Kampung tersebut bisa disebut sebagai kampung ‘para pemburu dolar’.

Setiap hari ratusan warga mengais rezeki dari tumpukan sampah pabrik Aspex Kumbong, semacam pabrik kertas yang berada di samping persis tempat itu. Mereka menamai tempat peruntungan itu dengan sebutan Amor.

Awiy (39), salah satu warga Desa Wanaherang menceritakan pernah mendapat one (sebutan masyarakat sana untuk dolar AS) saat mencari sampah.

“Iya saya pernah dapat one,” ungkap Awiy saat berbincang dengan kumparan (kumparan.com) di warungnya, Kamis (5/4).

Tua, muda, bahkan anak-anak semua mencari rezeki dari tumpukan sampah itu. Tak peduli gelap langit mencekam, mereka tetap menggerakkan tangannya, mengais tumpukan sampah demi mencari apa yang diharapkan. Tangan-tangan mereka terlihat begitu gesit dalam mencari sampah. Ada yag murni mencari sampah seperti plastik, dan ada juga yang berniat berburu dolar.

“Saya di sini mencari sablon (sampah plastik). Kalau ada buangan dari pabrik biasanya ke sini. Sudah ada 6 tahun,” cerita Fatimah (52) sambil memilih sampah ketika matahari mulai terbenam.

Pabrik Aspex Kumbong sendiri membuang sampahnya di TPS Parung Dengdek dalam beberapa waktu, ada pagi, siang, sore, dan juga malam. Di saat itulah warga berbondong-bondong datang mengorek-ngorek sampah.

Mereka berjalan di atas sampah, dalam beceknya lumpur yang bukan berwarna merah atau hitam lagi, melainkan abu-abu. Hujan rintik diterjang demi mengais sedikit rezeki.

Masyarakat tampak sudah akrab dengan kondisi dan aktivitas itu. Memang saja, di antara mereka ada yang berhutang budi pada dolar tampukan sampah itu. Dengan dolar ada yang bisa sekolah, dan dengan dolar ada yang bisa membuka usaha. Kehidupan layak dimulai dari dolar yang ditemui.

“Saya besarkan anak ini salah satunya karena one,” ungkap Awiy.

Meski begitu, masyarakat tak tahu kenapa bisa ada dolar dan mata uang lain yang dibuang secara cuma-cuma. Pihak pabrik tak pernah berkata sedikit pun tentang hal ini.
Meski masih menjadi misteri, nyatanya dolar di antara tumpukan sampah itu adalah rezeki yang banyak dinanti.

Komentar Anda ?

Leave a Reply