Kekuasaan Adalah Perebutan “TAKDIR”

Ilustrasi

oleh : Saifuddin Al Mughniy

Sulselku – Mungkin ada benarnya adagium yang mengatakan bahwa “kekuasaan” adalah relasi yang begitu kuat dalam kehidupan manusia. Ephitumia dan thumos telah menggerakkan jiwa menjadi ambigu. Sangat naluri, sebab zoon politicon telah menjadi kajian tematik politik dimasa lalu. Polis di Yunani adalah embrional bergeraknya keadaan politik menjadi “nation state”. Populer dengan sebutan negara kota saat itu.

Sejarah adalah jejak terbesar lahirnya peradaban. Politik kekuasaan yang pada fase selanjutnya melahirkan “invasi”, baik politik, ekonomi dan budaya. Hal ini sulit dihindari karena desakan saintek terhadap kehidupan ummat manusia. Invasi politik, dengan agresi militer misalnya seperti di mesir, suriah, Irak, Lebanon dan beberapa negara lainnya adalah bentuk penegasian kekuasaan politik. Apakah ini sebuah takdir ?

Kekuasaan adalah “takdir” bagi yang memenangkannya. Yah, ketika seseorang dalam hidupnya mendapatkan sesuatu termasuk kekuasaan adalah takdir baginya. Dan begitu pula sebaliknya seseorang yang tak meraih kebahagiaan dalam hidupnya, termasuk kekuasaan itu juga adalah takdir baginya. Dengan demikian “pergolakan politik” bisa saja disebut sebagai perebutan takdir.

Takdir menang dan takdir kalah adalah konsekuensi logis dari “kekuasaan sebagai takdir”. Dalam paham konservatif perubahan yang mengharapkan dari Tuhan tanpa usaha adalah kecemasan yang membungkus kepasrahan atas nama takdir. Sementara politik tentu merebut takdir harus dengan usaha yang maksimal. Usaha menisbahkannya meraih takdirnya.

Karenanya, kepasrahan dalam politik adalah satu pemantik kegagalan. Takdir harus diusahakan dan diperjuangkan (Geben sie auf nich) bangsa Jerman menyebutnya demikian. Karena takdir “menang kalah” sering pula nalar digiring pada konflik-konflik antar “takdir”. Ini harus diretas untuk memahami kenyataan sebagai sesuatu yang diperjuangkan. Takdir memang “kejam” begitulah Desy Ratnasari dalam lagu lawasnya. Mungkin juga politik demikian kejam ?

Oleh sebab itu, politik dan kekuasaan adalah dua hal yang ditakdirkan bersama, tak terpisah dari keduanya, sejalan dengan locus dan focus ilmu politik itu sendiri yakni negara dan kekuasaan. Takdir berbangsa adalah keharusan yang tak tertolak, sejarah memaksa itu, walau Tuhan hanya mengantarkan bangsa ini di depan “pintu gerbang kemerdekaan”, takdir Tuhan bukan ?

Dengan demikian, senyawa demokrasi haruslah senafas dengan “takdir” sebagai suatu bangsa. Sebab manusia adalah sang khalifah (wakil Tuhan) di bumi ini, sejatinya kekuasaan dan politik haruslah mampu menjaga marwah kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab sadar atau tidak, bangsa ini lahir karena bergerak diatas takdirnya. ***

Airport Sultan Hasanuddin, 3 Agustus 2017.
*sebuah catatan kecil seri 93*

Komentar Anda ?

Leave a Reply