Membawa Anjing ke Mesjid, Fahira Idris: Aparat Harus Menyelesaikan Kasus ini Dengan Baik

Sulselku – Fahira Indris selaku Wakil Ketua Komite I DPD RI turut berkomentar terkait kasus seorang wanita membawa anjing masuk ke dalam masjid.

“Aparat penegak hukum harus mampu bersikap proporsional dan harus menyelesaikan dengan baik kasus yang terjadi di Masjid Al Munawaroh Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/6) itu, ungkap Fahira Indris dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/7).

Fahira menilai penyelesaian secara hukum terhadap peristiwa yang mempunyai sensitivitas seperti ini sangat penting untuk mencegah preseden tidak baik terulang di kemudian hari.

“Apapun latar belakang dan masalah yang dialami pelaku, apa yang dilakukannya di dalam masjid sangat tidak pantas dan tidak bisa dibenarkan,” tegasnya.

“Kasus ini harus ditangani secara proporsional dan transparan karena punya dampak luas dan sudah menjadi perhatian publik. Kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua dan tidak terulang lagi,” tambahnya.

Termasuk, agar kasus ini tidak melebar dan dimanfaatkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh keadaan dan mengadudomba masyarakat.

Sementara menurut salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pusat Anton Tabah, unsur penistaan dalam kejadian itu telah terpenuhi.

“Delik materil Pasal 156a KUHP yakni melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama Islam, bersifat fisik, wujud gerakan tubuh atau bagian dari tubuh dengan masuk masjid tak sesuai norma agama Islam,” urainya.

Dia menambahkan, bahwa menghina, melecehkan, meremehkan agama adalah kejahatan serius. Begitu juga dengan perbuatan yang menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Ini semua harus diusut tuntas agar tiada konflik dan dihukum maksimal sesuai Surat Edaran MA dan amanat UU.

“Saya harap MUI setempat mengawal kasus ini jangan sampai tidak diproses polisi. Jangan sampai polisi langsung menyimpulkan pelakunya gila atau stress. Biar yang menilai (soal gila atau stres) adalah ahlinya. Bukan polisi,” masih kata Anton Tabah.

Komentar Anda ?

Leave a Reply