Meneropong Problematika Time Value of Money

Oleh : Tamsir S.E

Mahasiswa Ekonomi Syariah Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar. Sir_tam@yahoo.co.id. Hp. 085255919750

Uang  Rp. 100.000,  hari ini akan lebih bernilai jika debandingkan dengan nilai uang Rp.100.000, masa yang akan datang atau uang Rp. 10.000  tahun lalu lebih berguna (utility) jika dibandingkan dengan nilai uang Rp.10.000 hari ini itulah yang dimaksud dengan time value of money dalam ilmu ekonomi dikenal juga dengan istilah positive time preverence, nilai uang dipengaruhi oleh dimensi waktu.

Uang yang dimiliki saat ini (present value) diasumsikan lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan nilai uang pada masa yang akan datang (future value) walaupun dengan nominal yang sama. Demikianlah ilustrasi dimensi waktu yang mempengaruhi nilai uang dalam teori ekonomi kapitalisme.

Walaupun dalam risalah-nya telah terjadi perdebatan yang sangat alot oleh kubu Milton Friedman dari kaum monetaris berhadapan dengan aliran Keynesan yang bersekutu dengan mazhab Cambridge School mengenai uang sebagai stock concept dan uang sebagai flow concept, tetapi pada dasarnya kedua aliran mainstream tersebut melegitimasi interest rate (tingkat suku bunga) sebagai tolak ukur pendapatan transaksi ekonomi, sekaligus sebagai alat untuk mengontrol dan menutupi ketertinggalan nilai uang.

Suku bunga dijadikan sebagai harapan penentu masa depan perekonomian, untuk meng-operasionalkanya dapat dilakukan melalui banyak kebijakan dan banyak transaksi diantaranya adalah dengan pinjaman (loan) ataupun dengan invesatasi (investment), aliran yang meyakini uang sebagai stock concept berarti mempercayai uang sebagai private goods uang dapat berproduksi, tumbuh dan berkembang walaupun uang itu ditumpuk dan ditimbun saja dalam suatu lokus. Sedangkan aliran yang mengimani uang sebagai flow concept  berarti mengakui uang sebagai publik goods, agar dapat tumbuh dan berkembang uang mesti di investasikan ke-berbagai sektor produktif, uang tidak dibenarkan mengendap begitu saja.

Teori tersebut meng-afirmasi mengenai pijakan dasar perokonomian kapitalisme dalam mewujudkan pembangunan yaitu berbasis Bunga. Para ekonom merumuskan teori pembelahan sel atau teori bunga majemuk yang diduplikasi dari ilmu biologi,  uang diidentikan dengan sel hidup yang dapat melakukan pembelahan dan berkembang biak dari waktu ke-waktu, sehingga kian hari populasinya kian meningkat. Dengan demikian uang tak ubahnya makhluk hidup dapat bertelur ataupun baranak. Di-kemudian hari teori suku bunga ini dijadikan sebagai tumpuan harapan dalam mendatangkan keuntungan sekaligus sebagai alat untuk menghindari risiko dalam transaksi ekonomi.

Mungkin dapat dikatakan bahwa suku bunga adalah harapan tetapi dalam waktu yang sama juga dapat dinyatakan bahwa suku bunga adalah ratapan, harapan bagi para bankir dan spekulator karena hanya dengan menghitung waktu dan ongkang-ongkang kaki dengan santai uang yang dimiliki dapat berlipat ganda, tetapi dalam waktu yang sama menghasilkan ratapan bagi rakyat dan para pelaku ekonomi lainya  yang tertatih tatih menutupi bunga pinjaman tiap bulanya, dalam sebuah lirik lagu diintonasikan dengan lirik gali lubang-tutup lubang pinjam uang bayar utang.

Konsepsi tersebut sangat eksploitatif dan mematikan nilai-nilai moral kemanusiaan, manusia berupaya memastikan hal yang tidak pasti (uncertainty) apa yang akan terjadi pada masa mendatang dapat ditentukan hari ini sebagaiamana penetapan tingkat suku bunga, baik dengan cara perhitungan flat, efektif maupun anuitas esensinya sama saja.

Kreditor belum dapat mengetahui bisnis seseorang kedepan seperti apa, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi bisa surlplus atau bahkan defisit, usaha yang dijalankan dapat mendatangkan positif return, negative return atau bahkan no return. Sehingga jika terjadi risiko maka sepenuhnya ditanggung oleh debitor  inilah yang disebut dengan zero sum game menarik keuntungan diatas kerugian orang lain.

Dalam Islam uang tidak dianggap sebagai komoditi sebagaimana halnya dalam teori uang sebagai stock concept tetapi uang cenderung dijadikan seabagai alat tukar, Islam menganggap uang adalah flow concept tidak boleh ditumpuk tetapi harus beredar karena uang tidak dapat diproduktifkan tanpa melalui pertukaran dan distribusi secara riil, uang buakanlah makhluk hidup yang dapat berterlur dan berternak tetapi uang adalah alat tukar (medium of exchange).

Penentuan tingkat suku bunga untuk mengatasi problema time value of money kapitalisme tidaklah solutif tetapi problematis manusia-manusia ekonomi kadangkala menyebutnya dengan istilah lintah darat yang dapat menghisap siapa saja. Kerena suku bunga tidak memanusiakan manusia, tetapi ia memiskinkan manusia, miskin secara ekonomi (eksploitatif dan intimidatif), miskin secara sosial (dis-asosiatif) maupun miskin secara spritual (serakah dan egoisme).

Dalam Islam tidak dikenal time value of money karena merupakan sebah dimensi yang bermasalah, tetapi diperkenalkan teori economic value of time yaitu nilai waktu ekonomi. Dalam artian waktulah yang memiliki nilai, waktu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin agar dapat produktif. Manusia harus bekerja mengerahkan segalah potensialnya dalam mamanfaatkan waktu karena waktu yang diberikan oleh tuhan pada hambanya dengan jumlah kuantitas yang sama yaitu 24 jam dalam sehari-semalam. Return atau nilai ekonomi yang dapat diperoleh manusia bergantung pada kinerjanya dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan.

Hal ini dapat dirujuk dalam ungkapan tuhan QS al-Asr dan QS al-Ra’ad/31:11. Bahwa manusia benar-benar berada alam kerugian kecuali ia dapat memnfaatkan waktu, kemudian firman Allah berikutnya ia tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya sendiri. Oleh karenanya penggandaan nilai uang yang mengikuti dimensi waktu sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam Islam sebagaiamana uangkapan tuhan dalam QS al-Baqarah/2:275.

Pinjaman dan investasi dalam Islam dilakukan berdasarkan mekanisme bagi hasil, dan bagi rugi (profit and lose sharing) bukan berdasarkan pada penetapan tingkat suku buga yang kaku dan memaksa. Hal ini dilakukan agar supaya kemungkinan yang akan terjadi (uncertainty) atau dalam istilah fikih disebut dengah gharar dapat diatasi dengan baik tanpa mengeksploitasi antar satu dengan yang lainya karena manusia tidak ada yang tahu secara pasti apa yang akan terjadi besok (QS Luqman: 34).

Untuk itu manusia-manusia yang menginginkan hasil yang maksimal dalam perekonomianya harus memanfaatkan potensi dan kinerjanya dengan semaksimal mungkin baik potensi ekonomi, potensi sosial, maupun potensi spritualnya QS al-Taubah;105.[]

Komentar Anda ?

Leave a Reply