Menurut Ahli, Sering Pamer Kemesraan di Medsos Tanda Pasangan Tak Bahagia

Sulselku – Kemesraan yang sering ditunjukkan pasangan selebriti Gading Marten dan Gisella Anastasia, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sebenarnya di dalam rumah tangganya.

Hal itu terlihat setelah kabar gugatan cerai Gisella Anastasia pada Gading Marten, yang didaftarkan pada 19 November 2018 di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, dan mengagetkan publik.

Adakah relasi antara kemesraan yang ditunjukkan di media sosial dengan kenyataan sebenarnya?

Menurut ahli, pasangan yang sering mengumbar status, foto, maupun video mesra secara online, justru sedang berusaha menutupi masalah yang menimpa hubungan mereka.

Nikki Goldstein, pakar seksolog dan hubungan dari Australia, mengungkapkan, hal tersebut, seperti seperti dilansir dari laman Independent.

Menurut dia, pasangan yang acapkali berbagi di media sosial, sering hanya mencari kepastian tentang hubungan mereka dari orang lain, kata Nikki.

“Sering kali orang-orang yang paling banyak mem-posting, sedang mencari validasi untuk hubungan mereka dari orang lain di media sosial,” katanya. Validasi yang dimaksud Nikki itu adalah suka dan komentar dari pengguna media sosial.

Nikki juga berpandangan bahwa pasangan yang begitu tertarik mengunggah foto satu sama lain via Instagram, sebenarnya tidak menikmati saat-saat bersama pasangan.

“Anda melihat orang-orang yang akan sangat fokus untuk mengambil ‘relfie’ (relationship selfie), kemudian mengaplikasikan filter dan hashtag. Saya pikir, mengapa Anda tidak mengambil foto saja. Karena itu kenangan yang indah?” ujar Nikki.

Nikki mengungkapkan bahwa dengan mereka memamerkan foto mesra di media sosial, justru yang dinikmati adalah tingkat banyaknya orang yang suka dan komentar dari warganet, ketimbang saat bersama pasangan mereka sendiri.

Sementara, caption umum yang biasa dituliskan dalam postingan tersebut, seperti ‘separuh jiwaku’ atau ‘my girl’ bisa menjadi tanda posesif.

Apa yang disampaikan Nikki tersebut setidaknya menjadi pengingat bahwa media sosial tidak mencerminkan kehidupan nyata.

Komentar Anda ?

Leave a Reply