Milk al Yamin itu Bukan Hubungan Intim Atas Dasar Suka sama Suka, Ini Penjelasan Wasekjen MUI

Sulselku – Wasekjen Majelis Ulama Indonesia, Zaitun Rasmin membantah keras desertasi Abdul Aziz yang mengangkat pemikiran Muhammad Syahrur yang berpendapat bahwa hubungan intim di luar nikah bukan termasuk zina jika dilakukan atas komitmen suka sama suka. Intelektual asal Suriah, Muhammad Syahrur menafsirkan milk al yamin atau milkul yamin sebagai hubungan seks atas dasar komitmen suka sama suka tanpa ikatan pernikahan.

Namun Ketua DPP Wahdah Islamiyah menunjukkan kesalahan besar dalam disertasi tersebut adalah defenisi milk al yamin yang menjadi dasar pijakannya. Menurut Rasmin, milk al yamin itu bukan hubungan intim di luar pernikahan yang dilandasi suka sama suka seperti yang dikatakan oleh penulis disertasi, Abdul Aziz. Bahkan dari defenisi secara bahasa dan istilah itu sudah salah.

“Milk al yamin itu artinya perbudakan, budak. Jika diterjemahkan oleh pak Abdul Aziz, dan ini sangat saya sayangkan, saya khawatir ini tidak jujur sebagaimana Muhammad Syahrur juga, jika diartikan sebagai komitmen, dari mana itu? Secara bahasa tidak, secara mustalah (istilah) tidak,” kata Zaitun Rasmin pada acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TV One.

“Perbudakan itu bukan dari Islam awalnya, dibolehkan seorang berhubungan seks dengan budaknya, ini diambil sebelum Islam, karena dasarnya namanya ada budak, budak itukan milik jadi boleh berhubungan seksual, Tapi Islam berhasil menghapuskan perbudakan dengan segala cara menyempitkan perbudakan itu dan segala cara membebaskan para budak,” lanjut Zaitun.

Zaitun menyayangkan Abdul Aziz tidak menjelaskan tentang milk al yamin, “Ini yang tidak diterjemahkan, tiba-tiba dibawa kepada milk al yamin itu adalah hubungan seksual yang didasari komitmen diluar pernikahan, komitmen apa itu? Katanya suka sama suka,” kata Zaitun lebih lanjut.

Jika seperti itu defenisi milk al yamin menurut Abdul Aziz, Zaitun Rasmin menyarankan agar menggunakan kata seks bebas saja. “Kalau begitu bilang saja seks bebas, seks bebas kecuali dengan istri orang, pakai bahasa itu saja supaya bisa dipahami oleh masyarakat awam, supaya tidak terjebak pada pengaburan seperti ini.” Tegas Zaitun.

Zaitun kemudian mengkritisi landasan Abdul Aziz menulis disertasi tersebut yang mengaku gelisah dengan diskriminasi terhadap pelaku hubungan seks di luar nikah, dimana terjadi penggerebekan padahal hubungan tersebut dilakukan di ruang tertutup dan didasari suka sama suka, tidak ada paksaaan dan sudah dewasa, Abdul Aziz juga menyorot hukuman rajam yang terjadi di Aceh. Bahkan Abdul Aziz berharap disertasinya bisa menjadi acuan dalam penentuan hukum di Indonesia supaya tidaka ada lagi diskriminasi atas pelaku hubungan intim di luar pernikahan yang didasari komitmen suka sama suka.

“Dan ini tentu musibah besar, dan jika dikatakan ini adalah solusi agar tidak terjadi kriminalisasi atas perzinahan, naudzubillah.” Lanjut Zaitun.

 

Komentar Anda ?

Leave a Reply