Misi Agama Di Tengah Orang Beragama

 

Oleh : Idrus, S.HI

Sekertaris Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi (LBHA) Stai Al-Azhar Gowa

Sulselku.com – Menjaga keutuhan dan keharmonisan antara umat beragama di Indonesia merupakan tugas dan tanggungjawab secara konstitusional oleh negara, sehingga aturan pun dibuat oleh pemerintah yang mengikat semua penganut agama yang ada dan diakui secara resmi oleh negara.

Sejak 34 tahun yang lalu, pemerintah telah membuat Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Tahun 1979 tentang aturan larangan penyebaran agama kepada orang yang sudah beragama, namun saat ini perlu memunculkan ingatan kita kembali kepada aturan tersebut dikarenakan sering luput dan tidak menjadi pegangan dalam berinteraksi antara umat beragama khusunya dalam menyampaikan serta menyebarkan agama.

Secara rinci, peratuaran ini telah menjelaskan dalam Bab III tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama, Pasal 3 berbunyi :“Pelaksanaan penyiaran agama dilakukan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, saling menghargai dan saling menghormati antara sesama umat beragama serta dengan dilandaskan pada penghormatan terhadap hak dan kemerdekaan seseorang untuk memeluk/menganut dengan melakukan ibadat menurut agamanya.”

Sementara itu, Pasal 4 berisi :“Pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain dengan cara:

a. Menggunakan bujukan dengan atau tanpa pemberian barang, uang, pakaian, makanan dan atau minuman, pengobatan, obat-obatan dan bentuk-bentuk pemberian apapun lainnya agar orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama yang lain berpindah dan memeluk/menganut agama yang disiarkan tersebut.

b. Menyebarkan pamflet, majalah, bulletin, buku-buku, dan bentuk-bentuk barang penerbitan cetakan lainnya kepada orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama yang lain.

c. Melakukan kunjungan dari rumah ke rumah umat yang telah memeluk/menganut agama yang lain.

Dengan merujuk pada poin a dan isi pasal 4 tersebut diatas, seyogyanya menjadi perhatian bersama, dan tidak memanfaatkan kondisi dan situasi yang ada demi untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan antara umat beragama.

Komentar Anda ?

Leave a Reply