Optimalkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Abdul Rauf, Lc (Pengurus IKADI Sulsel)
Abdul Rauf, Lc (Pengurus IKADI Sulsel)

Oleh: Abd Rauf, Lc (Pengurus IKADI Sulsel)

Sudah menjadi fenomena umum di seluruh masjid di tanah air bahwa pada malam-malam awal Ramadan, masjid penuh sesak dengan jamaah shalat isya dan tarawih. Jangankan ruang utama masjid, teras dan halamannya pun kadang dipenuhi saf-saf darurat.

Keadaan sebaliknya terjadi di hari-hari akhir Ramadan dimana masjid kembali “biasa-biasa” saja. Kalau di awal-awal Ramadan panitia masjid kebingungan karena jamaah begitu banyak dan membludak. Di akhir Ramadan, panitia bernapas lega karena masjid “luas” kembali bersamaan dengan mendekatnya Hari Raya Idul Fitri.

Kenyataan tersebut berbeda dengan keadaan di Masjidil Haram, Mekah. Di sana, semakin banyak bilangan puasa, semakin bertambah pula jumlah jemaah shalat. Semakin hampir berakhir pelaksanaan ibadah puasa semakin nampak antusias dan kegairahan orang dalam beribadah dan hadir di masjid. (dan itulah yang seharusnya juga terjadi di seluruh belahan dunia islam).

Diantara mereka ada yang datang untuk menunaikan ibadah umrah dan tidak sedikit yang sengaja datang untuk ber’itikaf disamping “jamaah tetap” Masjidil Haram sendiri.
Nabi saw dalam hadis yang sahih dari Aisyah ra disebutkan bahwa:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ أَحْيَا اللَّيْلَ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Adalah Rasulullah saw apabila masuk sepuluh terakhir Ramadhan, semakin menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya”
Artinya, Nabi saw di sepuluh terakhir Ramadhan semakin serius dan memperbanyak ibadahnya, dia bangunkan keluarganya; istri-istrinya, anak-anaknya, cucu-cucunya, menantu-menantunya untuk lebih menyemarakkan malam-malam tersisa dari Ramadhan. Beliau juga mengencangkan ikat pinggangnya pertanda semakin serius dan giat.

Jika melihat kemuliaan yang terkandung dari hari-hari akhir puasa, maka patutlah jika kita seharusnya lebih bersemangat dalam beribadah sebab pada malam-malam terakhir Ramadhan itulah ada malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Aisyah ra berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”

Pada malam sepuluh terakhir pulalah kita disunnahkan beri’tikaf, yaitu tinggal di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT dengan melaksanakan serangkaian ibadah.

Aisyah ra juga mengatakan bahwa Nabi saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau. (HR. Al Bukhari)

Adapula khatam Qur’an, menambah volume infaq shadaqah, Zakat Fitrah dan peningkatan ibadah-ibadah yang lain.
Di akhir Ramadhan, seharusnya masjid-masjid menjadi ramai karena sunnah-sunnah tersebut di atas, khususnya sunnah i’tikaf dan berburu kemuliaan lailatul qadar ada pada sepuluh terakhir ramadhan. Namun kenyataannya, masjid-masjid sepi dan yang justru ramai adalah pusat-pusat perbelanjaan yang diserbu untuk mempersiapkan kebutuhan lebaran, sebagaimana ramainya stasiun, terminal dan bandara untuk pulang kampung.

Syahdan, memang aneh, jika di awal-awal Ramadhan seluruh masjid ramai tapi di penghujung Ramadhan justeru yang datang hanya segelintir jamaah; jamaah tetap. Padahal, seluruh puncak kemuliaan ramadhan ada pada akhirnya. Dan, sebaik-baik nilai amalan itu adalah “khawatimuha” (penutupnya). Beribadah secara maksimal di akhir-akhir Ramadan bisa jadi merupakan indikasi “Husnul Khaatimah” Ramadhan itu sendiri bagi seseorang.

Dalam rangka menghindari “budaya panas-panas tai ayam” tersebut, maka yang perlu dilakukan dan diupayakan adalah melakukan optimalisasi amaliyah Ramadhan. Semakin banyak bilangan puasa, seharusnya membuat kita lebih giat dan bersemangat dalam beribadah. Maka kwalitas puasa semakin menjadi baik, shalat-shalat sunnat kita – disamping kewajiban fardu kita – seperti taraweh, qiyamullail, tahajjud dan witir semakin banyak dan khusyuk, bacaan Al Quran kita lebih banyak, infaq dan sadaqah kita semakin intens dan amalan-amalan saleh kita yang lain lebih berkwalitas. Dengan berusaha meningkatkan kwalitas ibadah diakhir Ramadhan, dan mengoptimalkannya, kita akan benar-benar sampai pada tujuan disyariatkannya puasa, yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Selamat berburu malam seribu bulan; malam lailatul qadar!.

Komentar Anda ?

Leave a Reply