Perempuan Adalah Tombak Peradaban

 

Oleh : Riani Burhan

Direktur Badan Kemuslimahan KAMMI Makassar

Sulselku – Mewakili pemikiran seorang yang terus mengikuti perkembangan kehidupan perempuan, Banyak kemudian potensi yang menjerit namun melejit dari sisi feminim yang tercipta dari tulang rusuk sosok Adam.

Salah satu makhluk yang dianggap lemah ini perlahan dari perkembangan zaman terus menjadi kontroversi yang begitu hangat diperbincangkan.

Salah satunya adalah gender. Sebuah konsep yang mendefinisikan perbedaan seorang laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis. Tulisan kali ini tidak akan membahas perjuangan untuk bisa menyetarai ataupun melebihi. Namun, sebuah wacana akan sedikit menembus paradigma seseorang bahwa begitu sangat berartinya makhluk yang disebut perempuan.

Mungkin masih ada beberapa yang beranggapan bahwa perempuan adalah racun dunia. Tidak semua, tapi masih ada. Mengulas sejarah sebelum Islam datang, dari berbagai perspektif yang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk yang tidak layak, kurang berharga, menghancurkan dan hina.

Bahkan dahulu, sebuah kebijakan tragis menjadi tradisi yang dapat mengubur hidup-hidup bayi perempuan sesaat setelah mereka dilahirkan dan merupakan kebiasaan yang dianggap umum. Mengapa? Karenanyalah dianggap (Hawa) Adam diusir dari surga. Semuanya merupakan perpektif kejahiliaan. Namun, setelah Islam datang, kebodohan yang dianut telah mengubah semuanya.

Mengistimewakan derajat seorang perempuan hingga sekarang. Karenanya Islam dibangun untuk kepentingan manusia dan tujuan-tujuan kemanusiaan universal yang lain, yaitu kemaslahatan, keadilan, kerahmatan dan kebijaksanaan.

Jika mendengar sebuah kalimat “Sebaik perhiasan adalah wanita sholehah”, maka akan sedikit banyak menggeser asumsi bahwa perempuan adalah racun. Sebaliknya, perempuan juga bisa menjadi sebuah madu!.

Melihat modernitas sekarang ini. Berbagai kecanggihan teknologi yang telah banyak merubah konsumen baik dalam paradigma bersosial hingga gaya hidup. Mengakibatkan tidak sedikit masyarakat terlena dengan kenyamanan yang didapatkan.

Termasuk perempuan yang tingkat keinginannya sangat tinggi. Hal ini yang dapat mengakibatkan tidak sedikit kebodohan menimpa jika kecanggihan dikonsumsi secara tidak layak, dan perempuan harus cerdas menyadari.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menyatakan dalam sebuah hadist bahwa “Wanita adalah tiang Negara, jika baik wanitanya maka baiklah Negaranya dan jika rusak wanitanya maka rusak pula Negaranya”. Jika ditelaah dengan cerdas, itu memang benar adanya. Idealnya bagi seorang perempuan, kondisi sekarang bukan lagi fokus untuk mempercantik diri. Mengikuti kebudayaan dan kebiasaan yang sedang trend namun tidak dianjurkan dalam agama. Apatah lagi jika kebiasaan tersebut tidak ada kaitannya dengan pengetahuan, ilmu dan kebudayaan.

Buka mata lebar-lebar, bahwa perempuan punya tugas besar. Secara tidak sadar, batin ini menjerit menyadari tentang tugas seorang perempuan yang rupanya tidak ringan. Bahkan, Negara yang akan jadi taruhan. Jika semua perempuan baik, maka akan dipastikan bahwa Negara akan makmur.

Sayangnya, kita tidak akan mendapatkan kesempurnaan itu.
Perlu diketahui mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadikan perempuan seumpama tiang? Karena, tianglah yang akan mengokohkan sebuah bangunan agar dapat berdiri dengan kuat. Akan ambruk bangunan tersebut jika tiangnya lapuk dan rapuh.

Seperti itulah peran perempuan. Salah satu cara untuk membangun peradaban adalah melalui komunitas terkecil dalam masyarakat yang disebut keluarga. Nasib bangsa tidak semata bergantung kepada pemimpin atau penguasa, tetapi lebih kepada bagaimana kaum perempuannya.

Bagaimana kemudian perempuan berperan penting dalam sebuah rumah tangga yang dapat memelihara nilai-nilai kehormatan, kemuliaan dan kewibawaan dengan ajaran Islam.

Mengurus rumah, anak dan suami merupakan aktivitas domestik yang semuanya dipersembahkan sebagai bentuk pengabdian yang tidak akan tergantikan walau sebesar apapun nilai uang tersebut. Tidak hanya itu, rana publik pun menjadi sebuah aktivitas keummatan yang perlu dikerjakan. Namun, tidak melupakan hakikat sebagai seorang istri dalam berumah tangga.

Keberlangsungan peradaban dalam keluarga, sosok perempuan tidak perlu memperlihatkan kekuatan kepada banyak orang. Mereka akan menyadari dengan sendirinya kepemilikan hati yang kuat dan tidak mudah rapuh dalam menghadapi broblematika.

Perlu diketahui, kesempurnaan seorang perempuan (istri) dalam keluarga adalah ketika menjadi seorang ibu. Secara kodrat, perempuan diciptakan untuk bisa hamil, melahirkan dan menyusui. Dimana, hal tersebut tidak akan didapatkan dari seorang laki-laki.

Fase tersebut yang akan meciptakan sebuah moment kedekatan antara ibu dan anak.
Menjadi seorang ibu lebih dari sekedar bertugas melayani suami. Anak adalah sebuah titipan dari Tuhan. Keberhasilan bukan sekedar berstatus telah melahirkan saja.

Akan tetapi, dapat dilihat dari keberhasilan dalam mendidik manusia (putra putri) yang baru lahir kebumi, sesuai norma agama dan nilai-nilai luhur agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Perempuanlah yang dapat menerjemahkan rasa kasih dan sayang secara sempurna.

Karena itu, pemberian peran mengurus rumah dan anak merupakan hal yang tepat baginya. Peran perempuan sebagai seorang ibu yaitu menjadi guru pertama bagi anak-anak dan rumah menjadi sekolah pertama baginya. Pada masa tumbuh kembang anak, ibu adalah dunianya. Karena itu, sebelum kemudian anak menemui guru hebat diluar sana, ia telah menemui terlebih dulu sosok guru hebat yang telah mendidiknya dalam rumah.

Baik buruknya sebuah Negara terlihat dari baik buruknya keluarga yang hidup didalamnya. Baik buruknya keluarga, bergantung dari individu yang menghuninya. Untuk sahabat perempuan, yang selayaknya harus terus belajar dan memperbaiki kualitas diri.

Tuntutlah ilmu, karena menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim dan muslimah. Agar kita memahami bagaimana perjuangan yang semestinya. Dapat mendidik putra dan putri dengan seharusnya, berjalan diatas bumi Allah sebagai hamba-Nya. Perlu disadari, putra dan putri kita harus lahir dari rahim perempuan hebat yang kelak dapat membangun bangsanya tanpa lupa kedudukannya sebagai seorang hamba.

Rahim itu, semoga milik kita (perempuan) yang telah membacanya.
Teruslah berjuang memperbaiki diri dan mendidik generasi, karena sejatinya kita (perempuan) juga sedang berjuang membangun bangsa ini untuk peradaban Islami.

 

Komentar Anda ?

Leave a Reply