Ramadhan Bulan Dakwah

Ilustrasi (sumber foto: pikiran-rakyat.com)
Ilustrasi (sumber foto: pikiran-rakyat.com)

Oleh: Abd. Rauf, Lc (Pengurus IKADI Sulsel)

Di antara ciri khas bulan Ramadhan adalah tumbuh suburnya suasana keislaman di semua tempat. Ummat islam mempunyai kesempatan lebih banyak untuk beribadah. Puasa merupakan sarana yang sangat efektif untuk menahan segala kecenderungan negative dan memotivasi untuk melakukan segala bentuk kebaikan. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para dai untuk melakukan dakwah; membuka pintu-pintu hidayah, menyebarkan syiar islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas taklim, kajian kitab, diskusi, ceramah dan lain-lain.
Tidak ada bulan dimana ummat islam begitu bersemangat, begitu bergairah dalam menerima dakwah seperti pada Bulan Ramadhan. Pada bulan ini, masyarakat begitu terbuka hatinya untuk mendengar, mengikuti segala kegiatan yang bernuansa dakwah, baik itu ceramah, tausiyah, kultum (kuliah tujuh menit), tabligh maupun kurma (kuliah Ramadhan). Di semua tempat; masjid, radio, televisi, kampus, sekolah, kantor dan instansi baik negeri maupun swasta. Semua bergerak sama menyemarakkan ramadhan sebagai bulan dakwah.
Rasulullah saw menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan penuh aktifitas yang positif. Beliau mengisinya dengan aktifitas da’wah dan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Seperti: perjalanan ke Badar (th 2 H), ke Makkah (th 8 H), ke Tabuk (th 9 H) dan lainnya. Semua itu beliau lakukan dalam rangka berdakwah di jalan Allah. Rasulullah saw senantiasa mengelorakan semangat amal saleh para sahabat dengan tausiyah dan pesan-pesan dakwah di bulan Ramadhan. Thema-thema tausiyah Nabi seperti kemuliaan qiyamullail pada bulan ramadhan, infaq shadaqah, dilipat gandakannya pahala amal perbuatan, diampininya dosa-dosa, merupakan contoh dari motivasi untuk beramal lebih giat dan lebih banyak di bulan ini.
Dakwah pada hakikatnya memang kewajiban setiap muslim dalam kapasitas yang berbeda-beda dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan prinsip Balligu ‘anni walau ayah (sampaikanlah dariku walau satu ayat saja) menegaskan hal tersebut. Dakwah adalah seruan, ajakan kepada islam. Seruan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan seruan menjauhi larangan-larangan-Nya. Berdasarkan prinsip ini, pada hakikatnya semua orang islam adalah dai (penyeru) kepada kebaikan dan pencegah terjadinya kemungkaran (amar ma’ruf nahi mungkar).
Banyak ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya dakwah di antarnya firman Allah:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ …
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl: 125).
Dan firman Allah:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104)
Rasulullah SAW juga menegaskan akan wajibnya dakwah ini dengan sabdanya:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ
Artinya: “Barang siapa yang melihat kemungkaran hendaklah dia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya, apabila dia tidak sanggup maka dengan lisannya, jika dia tidak sanggup maka dengan mengingkari kemungkaran itu dalam hati. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (Al Hadis).
Agar dakwah bisa mempengaruhi masyarakat dan merubahnya ke arah yang lebih baik tentu persyaratan utamanya adalah penyeru itu sendiri. Secara ideal, seorang dai adalah pengamal pertama ajaran islam sebelum mengajak orang lain. Akan tetapi jika belum sanggup mengamalkannya bukan berarti tidak boleh menyampaikannya sebab jika begitu akan banyak ajaran agama yang tidak pernah menjadi materi dakwah. Hal lain yang menentukan pula adalah kapasitas keilmuwan penyeru dakwah. Ini bermakna bahwa kita tidak pernah berhenti belajar, menambah pengetahuan, wawasan dan bacaan terutama yang terkait langsung dengan dakwah di bulan Ramadhan ini.
Dakwah dalam pengertian menyampaikan ajaran islam adalah ladang kebaikan setiap kita pada bulan Ramadhan. Dakwah adalah jalan para Nabi, ulama dan orang-orang saleh sepanjang zaman. Sedapat mungkin kita ikut ber fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dalam mengerjakannya agar pahala pahala puasa dan kemuliaan Ramadhan yang diperoleh dapat lebih maksimal. Diharapkan pula, pasca Ramadhan, ummat islam semakin tercerahkan aqidah, ibadah dan akhlaknya sebagai efek positif dari bulan dakwah ini. Semakin baik kwalitasnya. Semoga!
Taqobbalallahu minna wa mingkum

Komentar Anda ?

Leave a Reply