Tahun Ajaran Baru Persoalan Baru

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Ihwan

Tahun Ajaran Baru yang ditandai dengan penerimaan siswa baru di seluruh jenjang pendidikan sudah berlalu, tapi masih menyisakan ketidakpuasan bagi orangtua terutama yang anaknya sekolah di sekolah negeri atau sekolah milik pemerintah, serta persoalan yang sampai saat ini belum berani diungkap faktanya oleh berbagai pihak. Mungkin masih segar dalam ingatan kalau dalam penerimaan siswa baru beberpa waktu lalu, banyak orangtua yang mengeluh dengan mahalnya biaya peralatan sekolah (baju seragam) yang dijual oleh pihak sekolah terutama sekolah yang ada di Kota Makassar, yang harganya jauh berbeda dengan harga pasaran pada umumnya. Bayangkan saja, selembar baju batik di Sekolah Dasar ada yang dijual senilai Rp. 75,000,-, untuk tingkat SMP senilai Rp. 150,000,-, padahal harga baju batik SD di pasaran 45,000,- sampai 65,000 untuk tingkat SMP dan SMA. Belum lagi peralatan sekolah yang lain, sehingga jika di totalkan, maka setiap orang tua harus menyediakan anggaran sebesar Rp. 200.000,- sampai Rp. 600,000,- untuk tingkat SD sedangkan tingkat SMP mereka harus menyediakan anggaran sampai Rp. 1,200,000,- setiap anaknya.

Sangat ironis memang bahwa masih saja ada sekolah yang menerapkan system pembayaran seperti ini, padahal untuk memajukan pendidikan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, salahsatunya adalah dengan memberikan bantuan yang namanya Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), belum lagi untuk meningkatkan kesejahteraan guru, pemerintah telah memberikan Tunjangan Sertifikasi Guru dan Dana Pendidikan Gratis untuk tiap sekolah. Sangat disayangkan karena Revolusi Pendidikan yang menjadi salah satu program Walikota Makassar, harus dikotori dengan ulah sekolah yang melakukan pungutan seperti ini. Sampai-sampai Bapak Walikota Makassar Danny Pomanto memberikan pernyataan, “BUKTIKAN PUNGLI di SEKOLAH!”. “jika ada orangtua siswa yang bisa membuktikan kalau ada pungli di sekolah melalui penjualan baju seragam, kepala sekolahnya langsung saya pecat” begitu katanya melalui salah satu media di Kota Makassar.

Inilah persoalan inti yang seperti penulis sampaikan belum terselesaikan, karena sampai sekarang belum ada orangtua siswa atau pihak lain yang berani mengungkap faktanya, alasannya Cuma satu mereka takut kalau anaknya nanti dikucilkan atau diintimidasi apabila berani melawan system yang sudah sangat bobrok dan pastinya saling melindungi. Seharusnya Bapak Walikota Makassar tidak perlu menunggu kesaksian orangtua siswa, karena faktanya sendiri sudah diungkap oleh OMBUDSMAN Kota Makassar yang dipaparkan dihadapan 40 Kepala Sekolah se Kota Makassar pada tanggal 16 Agustus lalu di Hotel Prima, ini sama saja Bapak Walikota meragukan kinerja OMBUDSMAN yang notabene adalah lembaga legal yang dibentuk oleh pemerintah. Kalau Bapak Walikota Makassar benar-benar komitmen dengan Program Revolusi Pendidikan, pasti beliau segera akan membentuk tim investigasi untuk menelusuri kasus ini, dan membongkar siapa saja yang berada di balik kegiatan pungli melalui penjualan seragam di koperasi sekolah serta ke mana saja aliran dananya.

Ada satu pesan dari Bapak Pendidikan bangsa ini, “Jadikan semua tempat itu sekolah, dan jadikan semua orang adalah guru”, artinya apa, pendidikan itu sangatlah penting karena pendidikan akan merubah masa depan bangsa ini, karakter anak tergantung dari apa yang guru sampaikan dan contohkan melalui perbuatan dan tingkah laku yang menjadi teladan bagi anak didiknya, bukan dari bagus dan mahal seragam yang dikenakannya. Ingat pula pesan dari Bapak Anis Baswedan (mantan Menteri Pendidikan) “marilah bekerja berdasarkan empati, sehingga akan menghasilkan hasil karya yang tulus ikhlas dari hati”, sangat sederhana tapi mengandung filosofis yang sarat makna, dan apabila semua birokrat terutama guru-guru kita bisa merenungi dan memaknainya, maka tidak akan ada lagi praktik-praktik pungutan untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain, sehingga orang tua siswa atau masyarakat tidak harus memutar otak untuk menyediakan anggaran yang lebih besar setiap tahun ajaran baru, terlebih lagi anggapan masyarakat bahwa pendidikan yang berkualitas harus mahal dengan sendirinya akan hilang.

Komentar Anda ?

Leave a Reply