Agency Theory dalam Sorotan Ekonomi Syariah

Oleh : Tamsir S.E

Mahasiswa Ekonomi Syariah Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar. Sir_tam@yahoo.co.id. Hp. 085255919750

Sulselku – Ekonomi syariah dewasa ini telah menjadi objek yang sangat menarik untuk diamati. Betapa tidak sejak kelahiranya ekonomi syariah telah medapatkan tempat dalam mewarnai diskursus ilmu ekonomi diabad moderen ini. Ekonomi Syariah hadir tidak hanya manangkap peluang untuk mengisi ruang-ruang ekonomi yang sedang kosong, tetapi ekonomi syariah hadir sebagai muarah dalam manampung asipirasi umat yang sedang gundah dan hampa dalam dunia ekonominya.

Termasuk dunia korporasi hari ini sedang gundah dalam menangani problematika agency theory, sebuah teori keagenan yang merujuk pada entitas bisnis kapitalisme antara korporasi, agent dan principal. Agent sebagai aktor dalam menjalankan korporasi tidak mempunyai porsi kepemilikan dalam perusahaan yang ia jalankan, ia hanya berfungsi sebagai pekerja dengan imbalan tertentu untuk memaksimumkan keuntungan dan kesejahteraan principal sebagai pemilik saham dari korporasi.

Sepanjang perjalananya pemisahan kepemilikan dan kendali tersebut menimbulkan benturan kepentingan (conflic of interest), yang sering disebut dengan agency problem. Alih-alih manajemen bekerja untuk memaksimumkan kepentingan pemegang saham, justru ia berupaya untuk memaksimalkan kepentingan dirinya sendiri (utility maximisers). Pengambilan keputusan didasarkan pada kebutuhannya (needs), keinginannya (desires) dan preferensinya.
Agent memanfaatkan kesempatan mengelolah harta kekayaan pemilik perusahaan untuk mendongkrak tingkat kesaejahteraanya. Hal ini terjadi karena adanya asimetri informasi (information asymetric) antara manajemen dan pemilik modal. Pemilik perusahaan minim bahkan melek informasi sedangkan agent sebagai operator pengelolah perusahaan full information.

Dikotomisasi antara principal dan agen telah terjadi tetapi pada dasarnya keduanya memiliki keinginan yang sama yaitu mewujudkan kesejahteraan, principal dan agent terikat dalam sebuah kontrak perjanjian, namun karena risiko yang kemungkinan akan menimpah manajemen/agent, maka dalam pengambilan keputusan ia mengedepankan kepentingannya (utility personality). Apatah lagi ditambah dengan doktrin Marxisme yang menegaskan bahwa owners senantiasa menjadikan agent sebagai budak dalam menaikan tingkat pendapatan perusahaan, oleh karenanya agent tampil melawan dengan memnfaatkan posisi dan kemampuan yang ia miliki dalam mengelolah internal korporasi.

Agentcy theory bak bara dalam sekam, agent sebagai aktor yang telah dipercayai untuk mengoperasionalkan perusahaan malah menjadi kanker yang merusak perusahaan dari dalam, maju dan berkembanganya sebuah korporasi sesunggunya dapat dilihat dari informasi yang dilaporkan oleh agent mengenai perkembangan harta yang dimiliki oleh principal dalam bentuk laporan keuangan. Sementara loporan keuangan disusun dengan sistematika yang searah dengan keinginan agent. Dengan demikian secara jelas laporan keuangan yang diproduksi oleh manajemen berupaya mereduksi nilai-nilai pertanggungjawaban sebagaimana yang diinginkan oleh pemiilik korporasi.

Agency theory syarat dengan nilai positvistik yang didominasi oleh kepercayaan realitas fisik, keberhasilan agent dan principal selalu diukur dengan angka-angka meterial, perwujudan kesejahteraan keduanya dapat dinilai dari banyaknya akumulasi harta yang mereka miliki.Oleh karenanya kecenderungan dalam teori ini adalah ke-egoisan, kerakusan dan keserakahan.

Ada banyak hal yang dilakukan untuk men-treatment persolan tersebut, sebuah korporasi tidak ingin dikelabui oleh agent. Maka untuk meminimalisasinya dapat ditempuh dengan cara meningkatkan kesejahtaraan para agent tersebut, memberikan bonus, menciptakan atmosfer perusahaan yang nyaman, atau menerapkan standar good corporate governance yaitu transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), keadilan (fairness), dan responsibilitas (responsibility) atau bahkan melakukan memonitoring agar asimetri informasi antara principal dan agent dapat dihindari dan agent benar-benar bekerja sesuai dengan keinginan pemilik perusahaan, yang pada akhirnya diharapkan dapat mencegeah tindakan-tindakan kriminal dalam menyusun laporan keungan yang fiktif.

Jika ditelisik anti biotik untuk mengobati penyakit kanker agency theory, selalu berada pada hal-hal yang bersifat rasionalitas, tetapi pada akhirnya juga tidak mampu mengobati penyakit yang telah lama mengendap pada teori tersebut, sebagaimana ciri khas kapitalisme mengobati dengan atheisme yaitu mengobati dengan membunuh eksistensi tuhan pada sebuah konsepsi hingga pada akhirnya hasilnya sama saja nihil selalu diperhadapkan dengan kegagalan.

Lain halnya dengan pembahasan ekonomi syariah yeng berkaitan dengan perusahaan atau syirkah. Ekonomi syariah ketika membangun postulat dalam sebuah kontrak pada perusahaan tidak hanya berbicara mengenai aspek material yang bersifat profan, tetapi esensinya ekonomi syariah berisikan nilai yang berisifat transendental. Ekonomi syariah memproteksi persoalan dengan nilai-nilai ilahiah, dapat berupa nilai tauhid, nilai keadilan, nilai kebebasan dan nilai ihsan. Nilai-nilai inilah yang menjadi ruh segalah amal, mewarnai seluruh kenerja dalam sebuah perusahaan baik oleh agent maupun principal.

Ekonomi syariah membangun hubungan kerjasama dengan prinsip kemitraan dan bersifat tolong-menolong (Al-Maidah/5:2) antara agent dan principal bukan sebagai tuan dan budak yang saling menindas, ketika pemilik perusahaan memberikan amanah dan kepercayaan kepada agent, maka agent tersebut memberikan kemampuan terbaiknya untuk mengemban amanah dengan ketekunan, agent dan principal bekerja dalam ruang lingkup kemitraan yang disepakati dengan seksama atas dasar ridho sama ridho dan saling menguntungkan satu sama-lain. Sehingga media keuangan yang dihasilkan bersifat hamanis dan religius, kinerja perusahaan baik oleh pemilik maupun pengelolah masing-masing dapat dipertanggung-jawabkan baik kepada manusia maupun kepada Tuhan yang maha kuasa.

Komentar Anda ?

Leave a Reply