Belajar Toleransi Dari Anak Ingusan

Sumber foto: Republika
Sumber foto: Republika

Oleh: Munawir Syam (penulis FLP Sulsel)

Pagi ini saya mengawas ujian anak-anak SDIT Smart School dan menyempatkan bercengkrama dengan anak-anak, saya bertanya kepada beberapa murid tentang puasa mereka, dan saya belajar tentang toleransi yang tidak muluk-muluk.

“Sudah berapa puasanya?”
“Dua pak guru,” jawabnya dengan semangat, saya membelalakkan mata, “wow hebat yah, harus ditambah puasanya kalau begitu,” Responku dengan sedikit memotivasi, maklum pak gurunya memang keren.
“Iya pak guru,” jawabnya tersenyum menampakkan barisan giginya yang dipisahkan jarak.
“Jadi kalau tidak puasa, bawa makanan ke sekolah?” Tanyaku lagi.
“Tidak pak guru,”
“Makan atau minum di sekolah?”
“Tidak juga pak guru,”
“Kenapa?”
“Kan banyak teman yang puasa pak guru,” jawabnya polos, dan kau tahu saya paling percaya kepolosan anak-anak. “Jadi makan di rumah pas pulang sekolah,” lanjutnya.

Tiba-tiba saja saya terharu, dia masih ingusan, diapun belum diwajibkan berpuasa oleh syariat, tapi dia tahu diri bahwa ini salah satu cara menjaga puasa teman-temannya yang baru belajar berpuasa, ini cara dia menciptakan kondisi ramadan dalam diri dan lingkungannya. Dia tahu etika.

Untuk mereka yang punya uzur tidak berpuasa di bulan ramadan bukan berarti mereka bebas mempertontonkan di depan publik, karena ada etika. Seperti anjuran mematikan ponsel ketika salat berjamaah di mesjid, banyak yang tidak mematikan, tapi silent.

Dan terkait aturan perda di beberapa daerah yang melarang warung makan buka di siang hari selama ramadan, saya pikir itu cara mereka menciptakan suasana ramadan, bukan karena orang berpuasa yang gila hormat. Di Makassar banyak warung makan yang buka siang hari, tapi mereka memasang hijab di warungnya, itulah cirinya warung makan di Makassar ketika bulan Ramadan. Ramadan itu beda dengan bulan lainnya.

Untuk kalian yang punya uzur tidak berpuasa, tidak apalah kalian sedikit merasakan susah akses makanan di siang hari, toh itu bukan berarti kalian tidak bisa makan, agar kalian juga merasakan bahwa ini ramadan. Tapi ini mungkin susah buat yang hamil dan ngidam, yang repot suaminya.

Berpuasa bukan soal jago-jagoan melawan nafsu, maka mereka yang mengaku imannya kuat dan tidak akan akan tergoda dengan aneka godaan termasuk makanan di siang hari, tidakkah mereka berpikir diantara saudaranya ada yang baru belajar berpuasa? Sekali lagi seperti anjuran mematikan ponsel ketika hendak salat berjamaah di mesjid, itu tidak punya dalil khusus, tapi itu ikhtiar imam untuk menjaga khusyuknya salat semua makmum. Walaupun mungkin ada diantara makmum yang imannya sekuat baja yang salatnya tidak terganggu walau dering ponsel meraung-raung.

Yang aneh, ada teman yang protes mati-matian kepada orang yang upload foto makanan saat berpuasa, katanya tergoda dan ngiler. Tapi mereka mendukung warung tetap buka siang hari di bulan ramadan dengan alasan dia tidak tergoda. Memang saat ini yang aneh yang kekinian.

Komentar Anda ?

Leave a Reply