Dilema Margin Pembiayaan Syariah

Oleh: MUHAMMAD MUNAFRI S
Mahasiswa Ekonomi Syariah Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar

Tingginya tingkat margin yang ditetapkan oleh Bank Syariah dalam pembiayaan murabahah menimbulkan persepsi dalam masyarakat bahwa margin sama saja dengan “ Bunga Bank “ pada Bank Konvensional.

Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia, dimana 15 persen dari respondennya mengatakan hal yang sama. Mereka beranggapan bahwa perbedaannya hanya pada “bungkus“ atau masalah penamaan. Bahkan Bank Syariah dianggap mengambil keuntungan lebih besar daripada Bank Konvensional.

Tingginya tingkat margin dalam murabahah ini tidak lepas dari dijadikannya tingkat suku bunga sebagai acuan dalam penentuan harga jual produk murabahah. Dijadikannya tingkat suku bunga sebagai acuan penetapan margin, merupakan langkah keliru yang dapat merusak reputasi perbankan Syariah sebagai bank yang bebas dari riba ( dalam hal ini bunga ). Selain itu, tingginya margin Bank Syariah dimungkinkan karena adanya antisipasi oleh pihak bank akan adanya inflasi dan kenaikan suku bunga di pasar.


Karena jika suku bunga di pasar naik, maka Bank Syariah akan menerima kerugian secara riil, namun bila tingkat suku bunga stabil atau turun maka margin dari murabahah ini akan lebih besar nilainya daripada bunga yang dihasilkan oleh Bank Konvensional. Dipakainya inflasi sebagai dasar penetapan margin juga dikarenakan bank mengantisipasi akan adanya penurunan nilai uang di masa yang akan datang. Namun tidak disadari bahwa penetapan margin murabahah yang tinggi secara tidak langsung juga dapat mengakibatkan inflasi yang bahkan lebih besar daripada yang disebabkan oleh suku bunga itu sendiri.

Dengan dijadikannya suku bunga sebagai acuan dalam penetapan margin, bisa jadi karena adanya keinginan dari Bank Syariah untuk selalu kompetitif dengan Bank Konvensional dalam hal penggunaan aset terkait dengan profit yang didapat. Bisa juga karena alasan strategi yang diterapkan Bank Syariah dalam hal penentuan perolehan target dari total aset yang dimiliki oleh Bank Konvensional serta keinginan Bank Syariah untuk mendapatkan floating customer. Namun, floating customer ini bukannya tidak baik, hanya saja kenyamanan nasabah juga harus diperhatikan.

Satu lagi alasan tingginya penetapan margin oleh Bank Syariah, yaitu bank harus menanggung risiko atas barang yang dijual. Namun kenyataannya, barang yang dijual oleh Bank Syariah ini kadang belum menjadi hak milik bank. Bank mengikat nasabahnya sehingga Bank Syariah tidak mungkin menerima penolakan dari nasabahnya, dan nasabah sebagai pembelinya terkadang diminta untuk membeli sendiri.

Idealnya, Perbankan Syariah dalam menetapkan margin pada pembiayaan murabahah berdasarkan rekomendasi, usul dan saran dari dewan ALCO (Asset and Liability Management Committe) Bank Syariah yang mempertimbangkan aspek Direct Competitor’s Market Rate /DCMR (tingkat margin keuntungan rata-rata perbankan syariah) dan Indirect Competitor’s Market Rate /ICMR (tingkat suku bunga rata-rata perbankan konvensional).
Selain itu, dewan ALCO juga akan mempertimbangkan Expected Competitive Return For Investor /ECRI (target bagi hasil kompetitif yang diharapkan dapat diberikan kepada dana pihak ketiga ), Acquiring Cost (biaya yang dikeluarkan oleh bank yang langsung terkait dengan upaya untuk memperoleh dana pihak ketiga) dan Overhead Cost (biaya yang dikeluarkan oleh bank yang tidak langsung terkait dengan upaya untuk memperoleh dana pihak ketiga).

Namun aplikasinya pada sebagian Bank Syariah tidak demikian, mereka terkadang tidak mengindahkan rekomendasi, saran dan usul dari dewan ALCO. Bahkan mereka dengan terang-terangan menetapkan margin secara sepihak tanpa ada tawar menawar sebelumnya dengan pihak nasabah. Itu semua tentunya disebabkan karena adanya motif “ mengejar profit yang besar “ sehingga label mereka sebagai lembaga keuangan berbasis syariah sudah tidak terlihat.

Perihal keuntungan dalam dunia bisnis, Ibnu Khaldun telah mengatakan bahwa keuntungan kecil tapi selalu berkesinambungan lebih baik daripada untung besar tapi sesaat. Teori inilah yang menjadi rahasia sukses pebisnis Cina. Berkorelasi dengan ini, M. Quraish Shihab berkata bahwa ”dalam prinsip bisnis, transaksi yang memberi untung sedikit tapi berkali-kali lebih baik daripada untung yang banyak tapi hanya sekali atau dua tiga kali”.

Sayangnya falsafah seperti diatas, tampaknya sudah tidak diamalkan dalam dunia Perbankan Syariah kita saat ini. Padahal pandangan ini sangat sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan keadilan, kejujuran dan sikap moderat (proporsional) dalam berbisnis. Kita berharap, kedepannya pandangan seperti ini bisa menjadi hal yang mewarnai operasional bank-bank syariah yang ada.

Komentar Anda ?

Leave a Reply