Imsak

FB_IMG_1465565178906_1465565282856
Oleh ARS Abu Faiz (Sekretaris IKADI Sulsel)

Imsak artinya menahan atau mengendalikan diri. Dalam ritual ibadah, imsak identik dengan puasa, karena imsak merupakan rukun tunggal puasa diluar niat, sebab itu, puasa adalah imsak dan imsak adalah puasa.
Secara bahasa imsak memiliki dua makna; Jika kata imsak digandengkan dengan huruf ‘an, imsak an, artinya menahan diri dari sesuatu. Jika digandengkan dengan huruf al-ba, imsak bi, artinya memegang. Dalam al-Quran kata imsak dengan dua makna di atas ditemukan di beberapa ayat. Imsak dengan arti memegang teguh ditemukan pada surat al-Ahzab ayat 37;
أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ
“Artinya : Pertahankanlah/peganglah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah”. Sedangkan imsak dengan arti menahan ditemukan salah satunya pada surat Fathir ayat 41;
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا
“Artinya : Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar keduanya tidak lenyap”.

Pertama, Imsak dengan makna yang pertama merupakan aktivitas menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sesuai waktu yang telah ditentukan.
Dalam al-Quran puasa digunakan dua kata; al-shiyam (الصيام) dan al-shaum (الصوم). kata al-shiyam ditemukan di tiga ayat semuanya dalam surat al-Baqarah ayat 183, 187 dan 196, sedangkan kata al-Shaum ditemukan di satu ayat pada QS Maryam ayat 26.
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Artinya: maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.

Menurut ulama kedua kata tersebut berbeda maknanya. dalam kaidah tafsir dikenal ma yuzann annahu muradif wa laisa bimutaradif (mirip tetapi tidak sesinonim). Makna al-shiyam (الصيام) adalah menahan makan dan minum serta jimak, dan segala yang membatalkan puasa. Berdasarkan instruksi ilahiah batasan imsak diawali dari tersingkapnya benang putih dari benang hitam hingga waktu malam. Adapun al-shaum (الصوم) maknanya menahan lisan dari membicarakan sesuatu yang dilarang. Sebagaimana Maryam diperintahkan untuk tidak berbicara kepada siapa pun soal kelahiran anaknya, tetapi di waktu yang bersamaan Allah swt memerintahkannya untuk makan dan minum.
Dalam tataran ritual ibadah, siapa yang mampu menahan diri tidak makan, minum dan jimak di waktu imsak yang telah ditetapkan, maka puasanya dianggap sah, kewajibannya telah ditunaikan. Namun untuk menemukan kesempuraannya, puasa dengan al-shiyam harus diikutkan dengan puasa al-shaum. Rasulullah saw bersabda, “siapa yang tidak meninggalkan perkataan buruk, bahkan beramal dengannya, maka Allah tidak punya hajat untuk menerima lapar dan hausnya”. Dalam al-Quran Allah swt menyerupakan orang yang tidak mampu menahan lisannya dari ucapan buruk (gibah) seperti orang yang makan daging bangkai saudaranya sendiri. Dengan demikian puasa adalah mengendalikan tiga bagian utama pada diri kita, perut, kemaluan dan lisan. Mengendalikan ketiga hal tersebut tidaklah mudah dilakukan oleh seseorang kecuali oleh orang tersebut benar-benar beriman dan merindukan dejarat ketaqwaan.
Kenapa puasa wilayah imsaknya meliputi perut, kemaluan (naluri biologis) dan lisan?
Karena ketiganya merupakan bagian asasi pada diri manusia. Makan dan minum adalah hajat tubuh yang tidak ada komprominya dan tidak ada alternatif pengganti. Keinginan untuk makan dan minum merupakan respon internal dari dalam tubuh karena lapar dan haus. Naluri biologis adalah keinginan yang datang mendesak dan mendadak karena adanya respon eksternal. Ketika naluri biologis memuncak, maka harus segera direspon sebagaimana kebutuhan makan dan minum. Bedanya, naluri biologis bisa diantisipasi dan dibendung gejolaknya. Salah satunya melalui puasa. Sedangkan berbicara adalah aktivitas wajib setiap orang. Orang akan bermasalah hidupnya jika tidak pernah bicara dalam sehari semalam.
Jika ketiganya tidak dikelola dengan baik, tidak difungsikan secara proporsional, dimanfaatkan di atas nafsu dan syahawat tanpa petunjuk al-Quran dan sunnah, maka akan merusak sendi kehidupan umat manusia dan meruntuhkan kemuliaan peradaban anak cucu Adam (walaqad karramna bani Adam)
Rasulullah saw telah berwasiat dalam hadisnya bahwa “ada dua sumber malapetaka manusia; perut dan bawah perut”. Di hadis lain Nabi bersabda bahwa “bejana yang paling buruk diisi oleh anak cucu adam adalah perutnya”.
Lihatlah, betapa berambisinya manusia ingin menguasai dunia hanya untuk memenuhi nafsu makannya dan mengisi bejana perutnya? Perhatikanlah berapa banyak orang keluar meninggalkan rumahnya saat matahari belum terbit dan pulang saat matahari sudah terbenam hanya untuk memenuhi hajat perutnya yang terbatas. Bahkan tidak sedikit orang saling membunuh karena urusan perut.
Demikian pula penyaluran hasrat seksual manusia semakin menyimpang dari kaidah kodrati yang telah ditetapkan Sang Khalid. Perselingkuhan membudaya, berdusta menjadi lumrah bahkan dalil absah bagi para pelaku kawin cokko-cokko. Allah memerintahkan nikah, manusia memilih zina.
Menjaga lisan!, orang bijak berkata jaga lidahmu karena kesejatianmu bermula dari lisan. Di erah teknologi informasi sekarang ini, bahasa jujur dan bohong telah bercampur aduk sehingga sulit dibedakan yang mana kebenaran dan kebatilan. Orang bisa saja jujur tetapi diperlakukan sebagai pendusta, sebaliknya orang yang berbohong justru disanjung dan diapresiasi. Bahkan bahasa jujur di era sekarang seringakali menjadi petaka. Sekarang dan ke depannya, penguasa peradaban adalah pemegang kendali lisan, bukan senjata. Pantas saja Nabi saw mengingatkan bahwa keimanan seseorang diukur dari perkataan baiknya dan diamnya.
Puasa sebagai ibadah ritual ketaatan kepada Tuhan, sejatinya memiliki implikasi perubahan pada diri manusia baik secara individu maupun masyarakat. Puasa menahan makan dan minum merupakan simbol pengendalian diri dari sifat kerakusan duniawi dan ketamakan materi. Puasa menahan jimak adalah pengendalian naluri biologis, dan menyalurkannya secara sah. Puasa menahan lisan adalah mentradisikan kata-kata baik dan benar, dan mengkondisikan ucapan dengan kalimat-kalimat terpuji. Puasa harus hadir memberi warna kebaikan di media televisi, radio, koran dan media sosial lainnya. Merubah fitnah, gosip menjadi zikir.
Memburu pintu rayyan tidak hanya cukup berlapar-lapar puasa (meminjam istilah Bimbo), atau berhaus-haus dahaga, tetapi pintu rayyan dibukakan kepada orang yang memuasakan perutnya dari ketamakan duniawi dan sifat kekikiran (syuhh), memuasakan naluri biologisnya dari fitnah seksual, memuasakan lisannya dari untaian kalimat gibah, dusta, fitnah, dan ucapan kotor.
Kedua. Makna Imsak yang kedua adalah mempertahankan dan memegang teguh kebenaran. “Kebenaran itu dari Tuhanmu maka jangan sekali-kali ragu dengannya”. Berpegang teguh di tali kebenaran Allah, konsisten di atas petunjuk al-Quran dan sunnah bagai memegang bara api. Jika tidak ingin terbakar maka jangan memegang bari api itu dengan setengah-setengah bercampur ragu. Tetapi harus digenggam dengan erat hingga bia dipadamkan apinya dan dikendalikan panasnya.
Puasa merupakan latihan untuk mampu memegang bara api tersebut tanpa membakar genggaman. Code entry puasa pada makna ini adalah sabar. Itulah sebabnya puasa adalah setengah dari kesabaran. Puasa melatih diri untuk sabar dalam setiap keadaan. Lantas mengapa seringkali terjadi orang puasa tidak mau mengantri karena alasan mau berbuka? Mengapa kita marah ketika ada orang yang makan di dekat kita? mengapa kita memaksa pedagang menutup warungnya hanya karena alasan kita sedang puasa? Apakah karena takut puasa terganggu?. Puasa adalah kesabaran, jika kita belum mampu menjaga diri dari godaan bau aroma makanan yang mengundang selera untuk makan, maka itu berarti puasa kita belumlah menjadi junnah (perisai) dari godaan duniawi. Puasa belum membentuk idealisme dan kemantapan prinsip menghadapi tarian indah kenikmatan duniawi yang menipu. Puasa adalah keteguhan jiwa, puasa adalah kesabaran. Puasa harus membentuk karakter. Wallahu ‘alam

Komentar Anda ?

Leave a Reply