Ini Cara Menghitung Zakat Profesi

zakatt
Ilustrasi (sumber foto: google)

*Oleh: Abdul Rauf, Lc (Pengurus IKADI Sulsel)

Pembahasan mengenai bab ini termasuk baru dalam fiqhi dan hampir tidak dikenal dalam buku-buku fiqhi klasik. Zakat profesi termasuk pembahasan baru dalam dunia fiqhi modern. Tetapi karena maraknya wacana mengenai bab ini (termasuk pro kontra sampai ada yang menyebutnya bid’ah), dan telah banyak dipraktekkan ummat islam di seluruh dunia, maka kami berpendapat bahwa zakat profesi perlu terus dibahas. Pertimbangannya adalah karakter dasar fiqhi yang dinamis, berkembang mengikuti perkembangan zaman. Pertimbangan lain adalah maslahat besar yang dikandungnya khususnya dalam mengangkat derajat ummat Islam dari segi ekonomi. Dan boleh jadi, pertimbangan kedualah yang paling mengemuka saat ini.
Profesi yang dimaksud dalam bab zakat profesi adalah pekerjaan atau usaha yang menghasilkan uang atau kekayaan baik usaha itu dilakukan sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain, maupun dengan bergantung kepada orang lain, seperti pemerintah, perusahaan maupun dengan perorangan yang memperoleh upah, gaji atau honorarium. Seperti dokter, Insinyur, Desainer, Advokat, Seniman, penjahit, tenaga pengajar, (guru, dosen dan guru besar), Pegawai Negeri Sipil, konsultan dan sebagainya.
Zakat profesi berarti zakat penghasilan seperti gaji, honorarium, komisi, bonus dan semacamnya. Dengan kata lain, zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil usaha halal yang dapat mendatangkan uang yang relatif banyak melalui keahlian tertentu.

Defenis lain, menurut situs Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) zakat profesi adalah zakat atas penghasilan yang diperoleh dari pengembangan potensi diri yang dimiliki seseorang dengan cara yang sesuai syariat, seperti upah kerja rutin, profesi dokter, pengacara, arsitek, dll. Semua profesi tersebut apabila menghasilkan uang senilai minimal 86 gram emas murni selama setahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.
Dasar Hukum Zakat Profesi
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (Al Baqarah: 267)
Dan juga dalil umum tentang zakat, seperti firman Allah:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (Adz Zariyaat: 19)
Disadari bahwa dalil-dalil tersebut adalah dalil umum mengenai zakat secara keseluruhan dan belum menunjuk zakat profesi secara khusus.

Akan tetapi, dalil-dalil di atas dapat menjadi dasar pijakan sebagai dalil umum mengenai zakat, termasuk zakat profesi di dalamnya karena profesi merupakan rezki dan harta yang didalamnya ada hak orang lain.
Dalil lain adalah qiyas zakat profesi dengan zakat panen dalam hal ini qiyasul aula (qiyas lebih utama). Dengan gambaran sebagai berikut, jika seorang petani yang menggarap lahan dengan susah payah, rentang waktu yang lama, modal sekian, hasil belum pasti dan sebagainya, diwajibkan membayar zakat dengan kadar antara 5 sampai 10% (tergantung model pengairan; tadah hujan atau irigasi), maka orang yang mendapatkan uang banyak dengan relatif lebih mudah, penghasilan tetap, lebih pantas untuk mengeluarkan zakat.
Sedangkan tarifnya (nishabnya) adalah dianalogikan kepada zakat emas dan perak yaitu sebesar 2,5 %, atas dasar kaidah “Qias Asysyabah”.

Cara penghitungan zakat profesi
Menurut Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara:
Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor secara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% X 3.000.000=Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.
Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan oleh mereka yang penghasilannya pas-pasan. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 1.500.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% X (1.500.000-1.000.000)=Rp 12.500 per bulan atau Rp 150.000,- per tahun.
Hukum orang yang tidak membayar zakat
Golongan yang enggan mengeluarkan zakat termasuk perbuatan yang tercela. Bahkan termasuk dosa besar. Orang yang enggan membayar zakat maka zakatnya itu akan dijadikan seperti setrika di hari kemudian untuk menyeterika jidat, lambung dan punggung orang yang tidak mau membayar zakat. Sebagaiaman firman Allah dalam Surat At Taubah:
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah. Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.(At Taubah: 34-35)
Berdasarkan uraian singkat mengenai zakat profesi ini kami berkesimpulan bahwa zakat jenis ini lebih baik diamalkan mengingat azas manfaat dan maslahatnya yang besar untuk ummat. Diamalkan meskipun ada sedikit perbedaan di kalangan ulama. Dan jika dicermati perbedaan para ulama itu, perbedaannya adalah pada jumlah kadar zakatnya dan apakah harus menunggu haul atau tidak, bukan pada apakah zakat profesi wajib atau bukan wajib. Semoga dengan zakat, (termasuk zakat profesi) harta menjadi bersih, berkemabang, berkah, bermanfaat bagi masyarakat dan meneyelamatkan pemiliknya dari murka Allah SWT. Mari berzakat!

Komentar Anda ?

Leave a Reply