Jangan Hanya Kaya Harta

Oleh: Muhlis Pasakai

Sulselku – Aku dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang berada, setiap hari mengkonsumsi makanan bergizi sehingga potensi kecerdasanku berkembang dengan baik. Mungkin seperti itulah anggapan rekan-rekan mahasiswa padaku. Itu sering kuucapkan pada ibuku ketika aku pulang kampung, saat aku menikmati hidangan racikan ikan asin khas ibuku.

Prestasi akademik dengan indeks prestasi yang akhirnya terakumulasi menjadi predikat “Dengan Pujian” serta sepak terjangku di organisasi internal kampus yang terbilang diatas rata-rata memang layak mengundang dugaan kalau aku datang dari keluarga mapan.

Jika organisasi mahasiswa di kampus dijadikan miniatur Indonesia, maka akulah salah satu mantan ketua MPR-nya. Itulah jabatan terakhirku sebelum menammatkan studi strata 1, jabatan yang mengantarkan aku memimpin sebuah demonstrasi yang disorot banyak media, sebuah lakon yang bergengsi bagi para aktivis mahasiswa.

Aku pernah menjadi ketua lembaga dakwah kampus, karena itulah aku cukup piawai memadukan firman Ilahi dan sabda Nabi serta khasanah intelektual Islam untuk menyerukan nilai-nilai kebenaran. Itulah salah satu aktivitasku di kampung halaman setelah meninggalkan dunia mahasiswa. Aku mengisi khutbah jum’at dan ceramah-ceramah dari masjid yang satu ke masjid yang lain, menjadi pemateri tema-tema Islam di sekolah-sekolah, hingga khutbah hari-hari raya.

Bagi mereka yang tak tau persis tentang kehidupanku, mungkin menganggapku hidup layaknya orang-orang menengah ke atas, bahkan suatu saat setelah menyampaikan ceramah subuh di bulan ramadhan, seorang yang sudah tua dengan rambut dan kumis memutih menyapaku, ia mengatakan bahwa kedepan saya layak jadi calon bupati, entah bercanda atau serius, aku segera menimpali“ Masiri’ka mengkalingai itu tafaue Fuang” (Saya malu mendengar apa yang Bapak katakan), kalimat ini bagi orang Bugis adalah semacam ungkapan yang menunjukkan betapa tidak mungkinnya hal tersebut. Ini adalah salah satu persepsi orang tentang saya, yang baginya aku bakal jadi orang “besar”. Itu karena mereka belum tahu tentang saya yang sebenarnya.Belum tahu bagaimana aku bersama istri dan anak-anakku terseok-seok memintal kehidupan di sebuah gubuk kecil yang juga kujadikan tempat bisnis kecil-kecilan.

Orang-orang menyebutku kepala sekolah termuda. Itu setelah aku mendapat SK untuk memimpin sebuah sekolah swasta tingkat menengah atas, yang semula kutolak. Banyak orang mengucapkan selamat padaku, banyak yang merasa bangga dan salut atas pencapaian itu, yang sebetulnya aku sendiri malu atas semua ekspresi itu.

Sebagai kepala sekolah aku banyak menghadiri undangan rapat dan acara-acara resmi lainnya yang juga dihadiri para pejabat. Mungkin karena itulah orang-orang yang tak mengenalku lebih dekat, menganggap hidupku mirip-mirip dengan kemewahan para pejabat itu.

Jabatanku ini bukanlah jabatan “elit” sebagaimana jabatan kepala sekolah yang orang dambakan. Kalimat pertama yang kuekpresikan melalui media mengenai amanah ini adalah “Mungkin inilah yang akan membuat rambut di kepalaku semakin cepat memutih”. Iya, jika menguraikan kisah perjuangan para guru dalam menammatkan peserta didik di sekolahku tak kalah menarik dengan novel-novel tetralogi yang ratusan halaman itu.

Dalam sebuah rapat bersama para pendidik pernah kuungkapkan, sebetulnya aku mulai malu-malu dengan jabatan ini (meskipun kepala sekolah sebetulnya bukan jabatan, tapi tugas tambahan). Orang-orang selalu memandangnya sebagai sebuah kesuksesan besar. Rekan-rekan alumni, baik di sekolah maupun perguruan tinggi selalu memujiku. Dimana-mana aku selalu diposisikan seakan-akan sebagai sosok kepala sekolah yang hidupnya berada.

Terkadang aku bersedih jika melihat orang-orang yang kupimpin, ketika mereka mendidik anak-anak yang “bandel” dengan segala pengorbanannya, tapi jauh dari kesejahteraan. Aku sangat berempati, tapi apa boleh buat, aku pun mungkin hidup lebih sederhana dari mereka. Karena itu, aku instruksikan dalam rapat-rapat untuk mencari sumber-sumber penghasilan dengan berbisnis yang tidak signifikan mengganggu tugasnya di sekolah. Karena itulah, banyak diantara mereka selain mengajar, juga menjalankan bisnisnya, bahkan sampai menjual gorengan di pinggir jalan. Secara profesional, tentu hal ini dipandang kurang ideal.

Menjadi petinggi organisasi mahasiswa, dari mimbar hingga memimpin sekolah bagiku adalah sebuah penghargaan besar dalam hidup ini, sebuah kesempatan emas yang mungkin tak banyak orang dapat merasakannya, meskipun harus kulalui dengan segala pernak-pernik yang terkadang mengorbankan banyak hal.

Aku kadang berfikir, jika aku yang “kecil” seperti ini saja sudah dapat melompati seutas peran, apatahlagi jika diperankan oleh mereka yang “besar”. Pertanyaannya adalah mengapa mereka yang “besar” itu enggan mengambil (bagian) dari peran-peran “kecil” seperti yang kuperankan ini?. JANGAN HANYA KAYA HARTA, TAPI JUGA KAYA PERAN!

Komentar Anda ?

Leave a Reply