Kuburan

images (19)*oleh : Sigit

Di Bulan Sya’ban ini kuburan ramai oleh peziarah, pedagang bunga, tukang parkir, penjual es dan pemandu kubur. Ekonomi bergerak. Kuburan Panaikang, Makassar memiliki nomor register ahli kubur, sehingga kalau kita tahu nomor kuburan yang akan dituju, pemandu yang sigap akan mengantar kita ke makam yang dituju.

Kuburan Dadi di Mariso lain lagi. Disana ada penjaga makam yang tahu detail siapa ahli kubur. Pernah suatu kali mencari kuburan sepupu, hanya tahu nama tanpa tahu nomor dan lokasinya. Dengan menyebut nama ahli kubur dan menceritakan asal usul keluarga, pemandu makam yang sigap mengantar ke makam yang dituju. Tepat.

Jenderal M Yusuf dan Pangeran Diponegoro dimakamkan di Makassar.

“Aku mau hidup seribu tahun lagi”, tulis Chairil Anwar dalam sajak “Aku” atau “Semangat” pada tahun 1943, ketika ia berumur 20 tahun. Enam tahun kemudian ia meninggal dunia, dimakamkan di Karet, Tanah Abang, yang disebutnya “daerahku y.a.d.” — (yang akan datang) dalam sajaknya “Yang Terempas dan Yang Putus” — sajak yang ditulisnya beberapa waktu menjelang kematiannya pada tahun 1949. Sejak itu sajak-sajaknya yang lain menjelma semacam kata-kata mutiara: “hidup hanya menunda kekalahan”, “Sekali berarti sudah itu mati”, “Kami cuma tulang-tulang berserakan”

Bahkan teman-teman yang terjebak kemacetan menuju Bekasi bisa lebih puitis dengan “Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi”

Sajak pertama Chairil berjudul Nisan. Ketika itu dia berumur dua puluh tahun. Dia menghadapi neneknya yang meninggal. Sang nenek begitu “ridla menerima segala tiba”. Bagi Chairil yang sedang lahap-lahapnya menghirup kehidupan, kematian membuat dia tertegun. “Bukan kematian benar menusuk kalbu”

Bung Hatta dimakamkan di Tanah Kusir bukan di taman makam pahlawan. Menurut sejarawan Anhar Gonggong, Hatta menolak dimakamkan di taman makam, karena beliau pernah mengaudit kasus korupsi mantan asisten Direktur Utama Pertamina, waktu itu, yang kabur ke Singapura. Namun, ketika mantan asisten itu meninggal dia dimakamkan di taman makam pahlawan. Inilah persoalannya, apakah orang sudah dimakamkan di taman makam pahlawan tidak boleh dibongkar makamnya untuk dikeluarkan karena dia koruptor.

Tan Malaka atau Ilyas Hussein yang bernama lengkap Ibrahim Sutan Datuk Tan Malaka pernah menyampaikan: ”Dari dalam kubur suara saya terdengar lebih keras daripada di atas bumi,”

Kisah Ziarah Kubur

Ad-Dakhil, santri KH Khudlori Tegalrejo, Magelang suatu malam rindu untuk berziarah ke makam wali, yang letaknya beberapa kilometer dari pesantren. Ad-Dakhil, nama lengkapnya Abdurrahman Ad-Dakhil, yang kemudian dikenal Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kata Ad-Dakhil merujuk pada pendiri Dinasti Umayyah di Spanyol, yang secara harfiah berarti “Sang Penakluk” atau “Sang Pendobrak”.

Ditemani dua temannya berangkatlah mereka di bawah cahaya bulan, menyisir jalan yang semakin sunyi. Semakin mendekati makam, rasa takut menghantui salah seorang santri.
“A-ku takut, Gus (panggilan Ad-Dakhil yang anak kyai)…” ucapnya
“Takut apa?” tanya Ad-Dakhil
“Ha-hantu….”
“Mukmin koq takut hantu!” sergah santri satunya
“Memang kamu tidak takut, Kang?”
“Takut juga, sih”
Ad-Dakhil tertawa
“Kok malah ngguyu to, Gus? Aku benar-benar takut.”
“Kalau takut baca do’a, Kang”.
“Sudah, Gus. Dari tadi juga berdo’a.”
“Do’amu keliru mungkin, Kang”.
“Do’anya apa, Gus, biar nggak takut?”
“Biar hantunya takut sama kita, kita baca do’a mau makan”
“Kok, do’a mau makan, Gus?”
“Hantunya akan takut mendengar kita mau memakannya”

Mau tak mau, kedua sahabat Ad-Dakhil tertawa. Musnah sudah rasa takut. Berganti senyum dan tawa. Dipimpin Ad-Dakhil, mereka berziarah di makam wali.

Ketika menjadi presiden, Gus Dur ditanya kenapa ziarah kubur. Gus Dur menjawab sederhana “Saya menziarahi mereka, karena saya meyakini bahwa mereka (ahli kubur) sudah tidak punya kepentingan lagi”

Dalam kitab Faidhul Qadir, Muhammad Abdurrauf al-Manawi disebutkan, tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati yang kelam selain berziarah kubur. Dengan ziarah kubur kita mengingat kematian. Dan itu akan menghalangi seseorang dari berbuat maksiat, melembutkan hati, mengusir kemelekatan (attachment) terhadap dunia, dan membuat musibah yang kita alami terasa ringan.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 1505M) mengkritik pihak-pihak yang menganggap ziarah kubur merupakan bid’ah. Seorang dosen dan cendekiawan Muhammadiyah pernah diwawancarai televisi, apakah ziarah kubur termasuk syirik. Dia menjawab bahwa ziarah kubur dianjurkan oleh Nabi: “Kuntu nahaitukum ‘an ziarah al-qubr, ala fazuruha” (Aku dulu pernah melarang orang berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah). Saya ziarah kubur. Di sana saya berdo’a dan tetap muslim yang baik

Imam Syafi’i berziarah ke makam Imam Abu Hanifah, mengkhatamkan Al-Qur’an, dan mendo’akan Imam Abu Hanifah.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.

Komentar Anda ?

Leave a Reply