Membedah Masalah PSSI

Oleh : Ahmad Akbar

Sulselku. Com – Datang akan pergi, Lewat kan berlalu, Ada kan tiada, Bertemu akan berpisah, Awal kan berakhir, Terbit kan tenggelam, Pasang akan surut, Bertemu akan berpisah. Lirik lagu yang berjudul Sampai Jumpa dari Endank Soekamti ini telah menggema hingga memaksa penonton meneteskan air mata di hampir seluruh stadion di Negeri ibu pertiwi. Menandai sebuah insiden pemain Indonesia yang berujung maut dalam mempertahankan gawangnya
dari kebobolon.

Setahun berlalu, kisah itu telah berakhir dan Liga 1 telah berujung. Namun insiden
masih saja belum mampu berakhir. Mulai dari masalah kepemimpinan wasit, pengelolaan liga, pengaturan skor hingga federasi PSSI yang terkesan bungkam terhadap berbagai permasalahan yang ada. Publik jelas semakin mempertanyakan kinerja PSSI sebagai federasi yang mengelola persepakbolaan Indonesia.

Hingga kini lahirlah sebuah tanda tanya
mengenai “Semahal itukah harga sebuah kejujuran ? Semahal itukah harga sebuah
integritas dan tanggung jawab ?” Hingga untuk sebuah permainan saja, sulit untuk
diwujudkan.

Kemana Revolusi Mental yang diharapkan Pemerintah ketika dengan mudahnya
petinggi PSSI dalam hal ini Komite Eksekutifnya terlibat dalam kasus penyuapan dan pengaturan skor. Hanya beberapa contoh dan masih banyak kasus yang belum terungkap ketika statuta dan otonomi menjadi tameng untuk berlindung.

Jika terus dibiarkan seperti ini, ruang publik akan tercemar dengan berbagai contoh negatif sehingga pesimisme, krisis kepercayaan dan disintegrasi menjadi ujung yang akan menyelimuti bangsa ini. Hal ini bisa saja terjadi karena sepakbola ada olahraga yang paling digemari mayoritas penduduk negeri bahkan dunia.

Bendera fair play yang dibentangkan sebelum pertandingan dimulai merupakan
pertanda sportiitas yang harus selau dijunjung tinggi. Apakah ini hanya simbol belaka ? Ataukan sportivitas hanya ada di lapangan namun tidak berlaku kepada para birokrat pengurus PSSI ? Inilah segelintir pertanyaan yang harus dijawab dengan evaluasi dan realisasi pembenahan yang patut menjadi fokus kinerja PSSI kedepannya.

PSSI harus meninggalkan kesan otoritarianisme dan ekslusifitas lembaga. PSSI harus lebih terbuka dan inklusif. Baik itu ketua hingga seluruh jajaran petinggi PSSI. Publik sudah cukup gerah dengan lontaran pendapat dari Ketua PSSI seperti “Bukan urusan Anda
menanyakan Hal Tersebut” hingga “Wartawan yang harus baik, agar Sepakbola Indonesia baik”.

Hal ini jelas bertolak belakang dengan salah satu tujuan dari peradaban sepakbola
yakni wadah pemersatu bangsa. Lantas bagaimana ingin bersatu ketika federasi sepakbola yang tetap kokoh mempertahankan egosentrisnya.

Disatu sisi, kita juga mengapresiasi PSSI yang telah melaksanakan pembinaan dan
kompetisi di beberapa kelompok tingkatan umur sepakbola. Namun PSSI harus beranjak dari kebanggaan tersebut. Hal demikian telah menjadi bagian dari tugas PSSI yang harus dilengkapi dengan perwujudan substansi dan Visi untuk dunia sepakbola tanah air yang jauh lebih baik.

Penulis adalah Ahmad Akbar. Tercatat sebagai Ketua Koperasi Pemuda Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan. Lahir di Ujung Pandang, 07 Juni 1995. Alamat diJl. Prof.
Mattulada Blok NK 1 Makassar. No HP 081806484531 Email ahmad.akbarr9@gmail.com

Komentar Anda ?

Leave a Reply