Menguak Nilai Etika Profesi Akuntan

Penulis : Ruslang

Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin MakassarKonsentrasi Ekonomi Syariah

“Karakter khusus yang dimiliki akuntansi syariah, mengandung nilai kebenaran dan keadilan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan”.

Akuntansi Syariah

Sri Nurhayati dan Wasilah memberikan defenisi, akuntansi syariah merupakan identifikasi yang diikuti dengan kegiatan pencatatan, penggolongan, serta pengiktisaran transaksi sehingga menghasilkan laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Surat al-Baqarah ayat 282 mengandung makna bahwa Allah memerintahkan untuk melakukan pencatatan atau penulisan transaksi (muamalah) secara benar dan jujur atas semua transaksi yang terjadi selama melakukan muamalah.

Tujuan utama akuntansi adalah adanya upaya menjaga terciptanya keadilan dan kebenaran dalam masyarakat, karena akuntansi mengandung unsur akuntabilitas dalam pencatatan yang menjamin akurasi transaksi.

Karakter khusus yang dimiliki akuntansi syariah, direkonstruksi berdasarkan nilai etika dan hukum Islam, dan dijalankan dengan penuh ketaatan. Nilai etika akuntansi syariah mengandung kebenaran dan keadilan. Tentang urgennya nilai keadilan dapat dilihat dari al-Qur’an surat al-Hadiid ayat 24 : “Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”

Dasar hukum dalam akuntansi syariah bersumber dari al-Qur’an, sunah Rasulullah saw, ijma (kesepakatan para ulama), qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu), dan ‘uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan syariah Islam. Nilai Akuntansi syariah, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari akuntansi konvensional. Nilai-nilai akuntansi syariah berjalan sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Islam.

Akuntansi syariah adalah suatu disiplin ilmu sosial yang mampu melayani masyarakat sesuai kondisi tempat penerapan akuntansi syariah tersebut. Tidak bertentangan dengan kaidah yang berlaku di masyarkat karena mengandung nilai keadilan pada semua pelaku ekonomi.

Seyogyanya masyarakat muslim mengaplikasikan idiologi Islam dalam kehidupan sehari termasuk dalam melakukan transaksi yang berkaitan pelaporan keuangan. Seorang muslim menjadikan syariah Islam sebagai rujukan utama aktifitasnya agar nilai-nilai Islam dapat diimplementasikan dalam kehidupan.

Menguak Nilai Etika Profesi Akuntan

Kemorosotan etika akuntan menjadi permasalahan besar yang dihadapi profesi akuntan saat ini. Hal tersebut menjadikan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap akuntan. Permasalahan etika dalam profesi akuntan menjadi perdebatan panjang baik di Barat maupun di negara Indonesia sendiri.  Maka, profesi akuntan mempunyai kaitan penting terhadap etika.

Manipulasi laporan keuangan marak beritanya dikabarkan. Skandal bisnis dalam berbagai bentuk yang melibatkan para akuntan dan eksekutif top-up perusahaan-perusahaan besar berskala global merugikan banyak pihak yang berkepentingan. Kasus kecurangan yang dilakukan oleh manajemen puncak perusahaan Enron, World Com, Xerox dan lainnya membuat pasar saham dan keuangan New York Stock Exchange dan berbagai bursa efek di awal tahun 2000an rontok. Demikian juga Amerika saat itu kehilangan milyaran dolar investasinya, lenyapnya lapangan kerja dan hilangnya ribuan orang simpanan pensiunnya.

Di Indonesia beberapa skandal akuntansi pernah dilakukan oleh akuntan. Isu mengenai skandal akuntansi berkembang seiring dengan terjadinya pelanggaran kode etik, baik yang dilakukan oleh akuntan publik, akuntan manajemen ataupun akuntan pemerintah. Fakta tersebut menunjukkan  bahwa  profesi akuntan mengalami penurunan citra di mata publik yang disebabkan oleh dugaan pelanggaran yang dilakukan sehingga mengakibatkan kerugian publik.

Skandal etika yang pernah melibatkan beberapa perusahaan di Indonesia, seperti: PT. Kimia Farma dengan KAP Hans Tuanakotta & Mustofa  (HT & M), PT. TELKOM dengan KAP Eddy Pianto, PT. Great River Internasional Tbk tahun 2003 dengan KAP johan Mando & Rekan, perusahaan Raden Motor tahun 2009 dengan KAP, serta kasus mafia pajak yang dilakukan oleh Gayus Tambunan sebagai akuntan internal pemerintahan tahun 2010.

Solusi utama dalam pelanggaran para akuntan terhadapan laporan keuangan perlu untuk diselesaikan, agar citra akuntan kembali pulih dan masyarakat kembali menaruh kepercayaan. Internalisasi nilai spiritual pada akuntansi syariah perlu diaplikasikan agar para akuntan bisa menjaga diri karena merasa terawasi.

Nilai Spritualitas Akuntansi Syariah

Nilai spiritual mengantarkan seorang hamba untuk dekat dengan Allah, merasa diawasi, merasa dikontrol dalam segala aktifitas sehingga hamba tersebut melakukan hal-hal yang positif dan menjauhi pelanggaran atas aturan-aturan agama.

Keringnya akuntansi dari nilai spiritual menjadikan maraknya pelanggaran yang dilakukan oleh akuntan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan. Seorang akuntan harus mampu menjaga citra diri agar tidak rusak dengan pelanggaran kode etik akuntan.

Akuntansi syariah megandung unsur-untur spiritual yang mampu menjaga seorang untuk tidak melakukan pelanggaran, karena yakin bahwa apa yang dilakukan akan mendapat ganjaran. Jika melakukan kebaikan makan akan dibalas dengan kebaikan sebaliknya jika melakukan kejahatan akan dibalas dengan kejahatan yang sama oleh Allah swt.

Islam sebagai agama sempurna telah mengatur segala aspek kehidupan manusia termasuk dalam laporan keuangan, bahwa Allah mengawasi segala kegiatan manusia. Jika melakukan pelanggaran dalam pelaporan maka itu dalam pengawasan Allah swt.

Muslim yang taat tidak melakukan pelanggaran pelaporan keuangan, karena nilai spiritual mengakar dalam dirinya. Ia merasa takut melanggar aturan karena segala aktivitasnya dalam pengawasan Sang Pencipta. Jika semua akuntan memiliki nilai spiritual dalam diri, maka tidak akan terjadi lagi pelanggara

Komentar Anda ?

Leave a Reply