Menyambut Panggung Resolusi

Oleh : Ahmad Akbar

Supervisor Beasiswa Etos Makassar

Sulselku. Com – Dunia ini panggung sandiwara. Cerita yang mudah berubah. Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan Yang harus kita mainkan. Lirik lagu yang dipopulerkan oleh Nicky Astria tersebut, mengandung makna yang dalam tentang nilai sebuah kehidupan.

Ibaratnya sebuah panggung, hidup penuh dengan dinamika peran yang dilakonkan setiap orang. Oleh karena itu, sangat penting untuk setiap orang mampu memaknai peran yang dilakukannya dalam hidup ini.

Momentum akhir tahun merupakan moment yang tepat dalam kembali memaknai peran tersebut. Menelaah kembali segala aktifitas yang telah kita lakukan di tahun yang lalu mengevaluasi seberapa besar yang telah dicapai serta merefleksi segala aktifitas tersebut, apakah sesuai dengan peran sebagai Manusia yang telah digariskan sebagai pemimpin di dunia.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam bahwa: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin.

Proses refleksi tersebut diharapkan kemudian menghasilkan berbagai kesadaran yang kuat untuk kembali menuliskan target dan capaian kedepannya. Target dan capaian baru tersebutlah yang kini akan kita jumpai di akhir tahun 2018 sebagai momentum evaluasi dan menyambut awal tahun 2019 sebagai momentum membangun resolusi baru.

Resolusi kedepan ini diharapkan bukan hanya trend akhir dan awal tahun yang dapat lenyap begitu saja. Resolusi yang lahir harus dari proses refleksi yang sejak dini kita lakukan sehingga akan melahirkan semangat dan tekad yang kokoh untuk mewujudkannya.

Terlebih lagi apabila dilengkapi dengan berbagai referensi, berupa buku ataupun artikel yang kini semakin mudah diperoleh di media untuk berbagai teori, tips dan trik dalam melahirkan sebuah target yang powerfull dan penuh makna.

Salah satu yang menjadi poin yaitu resolusi yang harus kita bangun dan kita sosialisasikan kepada keluarga dan orang-orang terdekat kita ialah resolusi tentang menghadirkan rangkaian refleksi dalam hidup yang rutin.

Rasulullah menyebut refleksi ini dalam sunnahnya sebagai proses muhasabah yang dianjurkan dilakukan setiap sebelum kita tidur. Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu bahkan menegaskan bahwa, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang oleh Allah.

Salah seorang Guru Besar Ekonomi Harvard-Kennedy School dan Prof. Jeffrey Frankel merumuskan sebuah teori yang disebutnya sebagai The Joseph Cycle atau Siklus Yusuf. Teori yang disajikan dalam Conference on Monetary Policy and Financial Stability in Emerging Markets di Istanbul Turkey tersebut, terinspirasi dari Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Quran (Q.S. Yusuf 47-49).

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur” (Q.S. Yusuf 47-49).

Siklus 7 tahun dipergilirkannya kejayaan dan paceklik kala itu menjadi pembelajaran berharga tentang adanya sebuah pola keteraturan di dunia yang sekilas penuh dengan ketidakteraturan ini.

Oleh karena itu, proses refleksi dan resolusi yang kita tetapkan harus senantiasa cermat dan melihat segala kemungkinan yang dapat hadir. Contohnya saja pada tahun 1975-1981, Oil Booming menempatkan kejayaan kepada Negara-Negara penghasil minyak. Namun setelahnya, pada tahun 1982-1988 terjadi krisis utang global yang disebut The Lost Decade di Amerika Latin.

Siklus Yusuf kembali terbukti pada era 1990-1996 dimana Negara Berkembang menapaki kemajuan yang sangat pesat termasuk diantaranya Indonesia. Gejala ini disebut sebagai Gejala Emerging Markets Booming.

Namun setelahnya, krisis ekonomi Asia pada tahun 1997-2003 berkembang dan kembali membuktikan siklus Yusuf terjadi.

Kini Tahun 2018 hanya menyisakan hitungan hari saja. 2019 akan tiba dengan warna barunya. Jika kita mencoba untuk menghitung kembali, maka kita akan menemukan bahwa pola kejayaan dan paceklik juga kembali terjadi.

Baik itu dalam skala global, nasional hingga skala diri kita pribadi. Kuncinya ialah kita tidak boleh berputus asa dari Rahmat Allah SWT.

Tetap bersyukur ketika memperoleh Nikmat serta senantiasa Sabar ketika diterpa musibah. Namun proses refleksi dan pembangunan target dan refleksi untuk capaian yang jauh lebih baik kedepannya harus terus diikrarkan sebagai manusia yang memiliki niat yang selalu positif untuk membangun Negeri serta mewujudkan Islam sebagai Soko Guru Peradaban.

Komentar Anda ?

Leave a Reply