Menyibak Kontroversi Dana Non-Halal

 

Penulis : Ruslang
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar
Konsentrasi Ekonomi Syariah
Email: ruslanazhar86@gmail.com

“Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa pendapatan non-halal berasal dari yang haram, namun MUI membolehkan bank syariah menggunakan dana tersebut”.

Islam mengajarkan kekayaan hanya sebatas sarana untuk mencapai kebaikan dalam masyarakat. Sedangkan landasan utama perbankan syariah adalah mencapai keridhaan Allah dan memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat, salah satu cara untuk memperbaiki kondisi masyarakat dengan distribusi dana kebajikan.

Aspek pelayanan perbankan syariah adalah perpaduan antara aspek sosial dan bisnis. Operasional bank syariah selalu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan terbebaskan dari unsur perjudian, manipulasi, dan riba. Karena itu, bank syariah tidak bebas melakukan transaksi, melainkan harus mengintegrasikan kode etik Islam dalam kegiatan ekonomi berdasarkan syariah.
Salah satu produk perbankan syariah yang diperuntukkan untuk nasabah yang membutuhkan dana dan sangat mendesak adalah dana kebajikan. Alokasi dana kebajikan sebagai bentuk tanggungjawab sosial bank syariah kepada masyarakat.

Dana kebajikan biasa juga disebut qardhul hasan yaitu, pinjaman tanpa imbalan yang memungkinkan peminjam untuk menggunakan dana tersebut selama jangka waktu tertentu dan mengembalikan dalam jumlah yang sama pada akhir periode yang disepakati.

Peruntukan dana kebajikan untuk kegiatan produktif bukan konsumtif. Karena dana tersebut akan dikembalikan oleh nasabah jika sampai batas perjanjian antara kedua belah pihak kemudian disalurkan ke nasabah lain.

Pendapatan dana kebajikan berasal dari sumbangan internal maupun eksternal lembaga keuangan syariah (LKS). Pendapatan yang berasal dari internal berupa pengembalian dana kebajikan produktif, denda dan pendapatan non-halal. Sedangkan dana yang merupakan dari eksternal berupa zakat,infaq, sadaqah, dan hasil pengelolaan wakaf.

Dana non-halal adalah setiap pendapatan yang bersumber dari usaha yang tidak halal (al-kasbu al-ghairi al-masyru’), namun sulit untuk dihindarkan. Dana tersebut tidak diakui sebagai pendapatan dan tidak boleh dianggap sebagai pemasukan pada lembaga keuangan syariah.

Sumber dana non-halal pada lembaga keuangan syariah merupakan pendapatan bunga yang diterima oleh lembaga keuangan syariah akibat dari kerjasama dengan entitas lain yang konvensional (Bank konvensional).

Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa pendapatan non-halal berasal dari yang haram lalu dibahasakan serta dimodifikasi agar terlihat halal. Namun pada kenyataannya, pendapatan non-halal bukan berasal dari pendapatan haram.

Perolehan dana non-halal menjadi bagian dari pendapatan yang tidak bisa dihindarkan. Seperti halnya dana CSR pada lembaga keuangan konvensional. Dana non-halal menjadi dana potensial dan signifikan untuk memenuhi hajat sosial masyarakat karena jumlah dananya yang sangat besar.

Dewan Syariah Nasional MUI memutuskan bank syariah boleh menggunakan dana non-halal untuk kemaslahatan umat. Namun, tidak boleh dihitung dan digunakan sebagai keuntungan bank syariah.
Dana non-halal wajib digunakan dan disalurkan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan umum yang tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Bank syariah boleh melakukan penyaluran dana non-halal dengan kebijakan sendiri, tanpa landasan pertimbangan ulama.

Mustahiq dana non-halal biasanya adalah mustahiq atas dana sosial dan kebajikan. Contoh alokasinya adalah untuk sumbangan sosial, untuk pembuatan infrastruktur umum, kepentingan pendidikan, kepentingan orang tidak mampu, sumbangan atas bencana alam atau sejenisnya.

Sumber dana non-halal adalah denda telat bayar untuk kategori takzir atau sanksi bagi nasabah zhalim. Dana ini merupakan sanksi atau penalti yang dikenakan bagi nasabah mampu, namun lalai sehingga telat melakukan pembayaran.

Sumber dana non-halal lainnya berasal dari transaksi bank syariah dengan pihak lain yang tidak menggunakan skema syariah, untuk keperluan lalu lintas keuangan, bank syariah dalam hal tertentu harus memiliki rekening di bank konvensional, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

Sistem bunga pada bank konvensional yang mengharuskan bank syariah mendepositokan uang untuk jangka waktu tertentu, mendapat pengembalian uang titipan tersebut dari bank ditambah dengan bunga yang jumlahnya telah ditentukan pada saat penitipan uang.

Demikian juga lalu lintas uang dalam tarik tunai ATM. Hal tersebut dilakukan oleh bank syariah untuk memudahkan nasabah bertransaksi baik tarik tunai maupun transfer. Zaman yang semakin mudah menuntut perbankan syariah berinovasi termasuk memberi kemudahan bagi nasabah.
Adanya bunga bank dari bank mitra merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dana tersebut masuk dalam ketegori pendapatan non-halal karena bunga bank termasuk haram namun sulit terhindarkan.

Seluruh dana kabajikan yang diperoleh lembaga keuangan syariah baik dari dana zakat, infak, sedekah dan dari dana non-halal, harus disalurkan kepada mustahik atau yang berhak menerima dana tersebut demi mencapai kebaikan bagi seluruh mustahik yang membutuhkan.

Pendapatan dari dana zakat, infak, dan sedekah harus disalurkan untuk kepentingan umat Islam karena merupakan dana yang penyaluran telah ditentukan dalam Islam yaitu diperuntukkan 8 golongan mustahiq.

Sedangkan pendapatan dari denda, bunga, atau dari dana non-halal disalurkan untuk kepentingan sosial berupa pembangunan sarana pendidikan, pembangunan jalan, pengadaan air bersih, bantuan korban bencana alam serta kepentingan umum lainnya.

Seluruh pendapatan non-halal harus benar-benar tersalurkan dan digunakan untuk kepentingan orang banyak serta dana tersebut tidak boleh dijadikan keuntungan atau pendapatan lembaga bersangkutan. Jika terjadi penyelewengan atas dana non-halal tersebut, maka dewan syariah nasional akan memberikan sanksi sebagai efek jerah agar tidak terulang pelanggaran yang sama. Lembaga keuangan syariah harus mampu menjaga integritas agar masyarakat semakin menaruh simpati dan kepercayaan karena hal tersebut akan berdampak positif bagi lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah harus mampu menebar kebaikan dari dana non-halal yang telah dihimpun demi mencapai kebaikan kepada nasabah yang membutuhkan bantuan modal usaha dan masyarakat pada umumnya.

Komentar Anda ?

Leave a Reply