Pernyataan Sandiaga Uno Tuai Banyak Protes

Sulselku – Calon Wakil Presiden RI nomor urut 02, Sandiaga Uni, saat berkampanye di Surabaya, berjanji akan menerapkan ilmu Nabi Yusuf bila kelak terpilih di Pilpres 2019.

“Kalau Nabi Yusuf butuh waktu 7 tahun untuk mengatasi krisis. Insya Allah, saya dengan pak Prabowo cukup tiga tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” kata Sandi saat menghadiri Dialog Ekonomi dan Entrepreuner di Surabaya.

Pernyataan tersebut dinilai keliru.

Seorang penggiat media sosial Ahmad Zein Oul Muttaqin menyampaikan protes.

Menurut Ahmad Zein, Nabi Yusuf bukannya mengatasi krisis 7 tahun, tetapi mengantisipasi krisis. Dalam ceritanya, Nabi Yusuf memprediksi musim paceklik yang terjadi, karena itu dia mengantisipasinya.

Selengkapnya, berikut tulisan Ahmad Zein Oul Muttaqin:

Pertama, saya ingin meluruskan bahwa yang dilakukan Nabi Yusuf di Mesir bukanlah mengatasi krisis ataupun memulihkan ekonomi seperti yang Sandi bilang, tapi mengantisipasi krisis yang berpotensi terjadi. Sekali lagi krisis belum terjadi.

Sebagai muslim, sedari kecil anda pasti sudah diajarkan kisah Nabi Yusuf yang mampu meramalkan bahwa akan datang 7 tahun masa paceklik setelah 7 tahun masa panen yang subur. Semua berangkat dari mukjizat yang beliau miliki yang mampu mena’wilkan mimpi Raja yang melihat tujuh sapi gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir gandum yang hijau dan tujuh lainnya yang kering.

Dengan itu beliau membangun berbagai gudang sumber pangan untuk penyimpanan hasil panen berupa gandum yang masih tersimpan di bulir-bulirnya untuk kemudian baru digunakan setelah masa paceklik tiba sehingga krisis pangan tidak menimpa Mesir di masa itu.

Jadi Sandi bila menyebut Nabi Yusuf memulihkan ekonomi, dia jelas tak paham arti kata “memulihkan”, dan dia tak paham sejarah yang tertulis di kitab sucinya sendiri lalu seenaknya membawa-bawa Nabiyullah Yusuf as sebagai objek pembanding dalam kepentingan kampanyenya, apalagi dalam kampanye ini Nabi Yusuf kalah dari bualannya.

Kedua, prestasi Nabi Yusuf yang berhasil menciptakan “Economic Forecasting” memprediksi dan mengantisipasi masa-masa paceklik ekonomi tidak berangkat dari kuliah di Wichita State University atau George Washington University seperti anda, atau karena memiliki berbagai perusahaan, ataupun karena mencalonkan diri untuk sebuah jabatan, tapi murni anugerah mukjizat dari Allah. Toh, karena kemampuannya itu beliau dianugerahi jabatan sebagai bendaharawan negara tanpa meminta apalagi kampanye sana-sini. Jelas beda.

Ketiga, mempromosikan diri sambil mencatut prestasi insan suci Ilahiyah yang kemampuannya berasal dari langit, lalu membandingkan dengan dirinya yang manusia biasa demi kepentingan kampanye, apalagi dengan melebihkan dirinya dari prestasi yang telah dicapai seorang Nabi (padahal baru wacana) dengan berkata “Kalau Nabi ini bisanya segini, maka saya bisa lebih sampai segitu”, ini bisa dianggap sebagai penistaan dan kekurangan-ajaran pada insan suci utusan Tuhan lengkap dengan perangkat mukjizat yang ter-install di dalamnya.

Tapi tenanglah bang Sandi, berhubung para tukang demo ada di kubu anda, bisa dijamin takkan ada demo berjilid-jilid bahkan sejilid pun untuk memprotes anda. Coba bayangkan jika Jokowi yang mengatakan itu, bisa jadi Jakarta akan diserbu gelombang pengangguran syar’i dengan aksi baru berlabel “Bela Kesucian Nabi Allah”.

Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mohamad Guntur Romli menilai ada arogansi di ucapan Sandiaga itu.

“Ini arogansi Sandi, merasa lebih hebat dari seorang nabi. Dalam mengatasi krisis, Nabi Yusuf memerlukan waktu 7 tahun, tapi Sandi mengaku bersama Prabowo bisa mengatasi 3 tahun, arogan!” kata Guntur Romli dalam keterangannya, Kamis (6/12/2018).

Guntur Romli juga mempertanyakan jenis krisis yang dimaksud Sandiaga. Guntur Romli menyebut isu krisis itu propaganda kebohongan.

“Soal krisis, itu propaganda kebohongan Sandi, tidak ada krisis di negeri ini, khususnya krisis ekonomi dan kewirausahaan, ekonomi kita tumbuh dengan baik, inflasi rendah, harga-harga sembako terjaga, Pak Jokowi peduli pada UMKM dengan pelbagai bantuan modal dan fasilitas lainnya,” tuturnya.

Menurut Guntur Romli, krisis justru di kejujuran Sandiaga Uno. Dia menyinggung soal kekayaan Sandiaga.

“Yang krisis itu justru ada di pihak Sandiaga Uno, krisis kejujuran, coba baca laporan perkembangan kekayaan dia, harta dia melonjak Rp 1.2 triliun dalam 2 tahun, kalau negeri ini krisis, tidak masuk akal harta dia semakin melangit, jadi Sandi krisis kejujuran untuk mengakui keberhasilan pemerintahan Jokowi” ujarnya.

Komentar Anda ?

Leave a Reply