Persaingan Panas Antara Jokowi dan Prabowo Jelang Pilpres 2019

Sulselku – Pemilu hanya tinggal 133 hari lagi. Hari pencoblosan, yang menentukan Indonesia lima tahun ke depan, itu semakin dekat. Persaingan antar sesama kandidat capres dan cawapres pun semakin seru, panas, dan mendebarkan. Masing-masing ingin menang, walaupun harus sikut-sikutan, melakukan hujatan, kebencian, dan dendam.

Panasnya Pilpres, bukan hanya karena dua pasang capres dan cawapres yang berhadap-hadapan, Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Tetapi Pilpres 2019 adalah rematch. Pertandingan ulang, Pilpres 2014, yang mempertemukan Jokowi versus Prabowo. Jokowi-Ma’ruf akan bertahan untuk menjaga singgasana kekuasaannya. Dan untuk menang lagi. Sedangkan Prabowo akan bermain habis-habisan dan ofensif, layaknya gelandang serang, yang siap menjebol gawang lawan.

Reuni alumni 212 kemarin, merupakan bukti betapa kerasnya persaingan itu. Aksi reuni yang damai, tertib, dan aman tersebut, memberi pesan kepada petahana, bahwa Prabowo siap untuk menantang, berjuang, dan menang di Pilpres 2019 mendatang. Perdebatan apakah reuni akbar 212 tersebut, kampanye atau bukan, ditunggangi atau tidak, yang pasti dan jelas reuni akbar alumni 212, telah menjadi panggung bagi Prabowo.

Prabowo ingin membuktikan, bahwa dia masih kuat, pengikutnya banyak, pemilihnya loyal, pendukungnya solid, dan siap untuk mengambil alih, tongkat kepemimpinan nasional di 2019 secara konstitusional. Karena pra-reuni akbar alumni 212 kemarin. Wacana dan narasi Prabowo dalam berkampanye, selalu mendapat sorotan negatif dari lawan politik. Ucapan tampang Boyolali yang menjadi viral salah satu contohnya. Prabowo merasa sering menjadi korban, dari ganasnya persaingan Pilpres.

Pasca reuni akbar alumni 212, bisa saja istana gelisah dan khawatir. Karena yang dihadapi adalah kekuatan umat Islam. Dan umat Islam tersebut telah menunjukkan, bahwa mereka membawa Islam yang damai, menyejukkan, aman, damai, dan tertib. Massa tersebut ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya bagi Indonesia. Tetapi juga bagi dunia.

Kubu Jokowi-Ma’ruf, tentu menghitung betul kekuatan pertemuan reuni akbar 212 tersebut. Karena bagaimanapun, secara historis, gerakan 212 telah menjatuhkah Ahok dari kursi gubernur DKI Jakarta. Dan memasukannya kedalam penjara. Gerakan yang awalnya, menuntut keadilan bagi Ahok untuk dihukum, karena telah menista agama Islam. Bisa saja menjadi gerakan yang mengancam kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019.

Yang hadir direuni akbar 212 itu, bisa saja merupakan massa yang kecewa terhadap kepemimpinan Jokowi. Dan simpati terhadap Prabowo-Sandi. Namun yang pasti, kita sebagai anak bangsa jangan terprovokasi. Islam yang damai harus tetap dikedepankan. Dan menjaga persaudaraan, persatuan, dan kesatuan hukumnya wajib dalam Islam.

Seratus tiga puluh hari (133) hari, merupakan waktu yang cukup untuk unjuk adu kekuatan. Adu ide dan gagasan. Adu visi, misi, dan program-program terbaik. Narasi yang dikembangkan capres dan cawapres juga harus mencerahkan, mendidik, memberdayakan, produktif, membawa kebaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik.

Jangan lagi melakukan kampanye-kampanye yang kontra produktif. Disaat bangsa-bangsa lain, telah menjelajah ke luar angkasa. Menikmati kemakmuran sebagai bangsa. Dua kubu capres dan cawapres, masih saling serang, adu nyinyiran, merasa paling benar, disana salah, disini benar.

Merasa paling Indonesia, disini pribumi, disana antek asing, merasa paling pintar, sedangkan kubu lain bodoh, merasa paling hebat dan kuat, sehingga kelompok lain diangap lemah, merasa terdzolimi, padahal sama-sama saling mendzolimi, dan merasa difitnah, padahal saling fitnah.

Indonesia adalah milik kita bersama. Pilpres hanya sarana untuk mencari dan memilih pemimpin terbaik. Jangan rusak republik ini hanya gara-gara adu kuat dan gengsi dalam perebutan kursi presiden. Sekeras apapun adu kuat, antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Jangan membuat bangsa ini terpecah.

Menjaga Indonesia lebih penting dari sekedar Pilpres. Pemimpin akan silih berganti. Namun Indonesia harus tetap terpelihara dan terjaga. Adu kekuatan dalam Pilpres, sejatinya bukan untuk saling menjelekan, mencari-cari kesalahan, dan membusuki lawan. Adu kekuatan Prabowo-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi harus menjadi sumber kekuatan. Bahwa kompetisi untuk menjadi presiden dan wakil presiden, silahkan dilalui. Namun harus mengutamakan kesejukan, cinta, kasih sayang, dan perdamaian.

Tak mungkin bangsa ini dibangun, dengan narasi saling menjelekan dan menafikan. Tetapi republik ini dibangun, atas dasar kebersamaan. Kebersamaan sebagai anak bangsa, jauh lebih penting dari sekedar dukung mendukung capres dan cawapres. Pilihan boleh beda. Namun pesaudaraan harus tetap dijaga.

Sesama saudara tidak mungkin saling menyakiti. Sesama anak bangsa, tidak mungkin saling mendzolimi. Kesadaran elit dua kubu yang berseberangan dalam Pilpres, menjadi keniscayaan. Kesadaran untuk berkomitmen membangun kampanye yang damai dan penuh keadaban.

Kita lihat, strategi apa yang akan dilakukan para tim sukses kedua kubu, untuk memenangkan jagonya masing-masing. Adu kuat Jokowi-MA dan Prabowo-Sandi akan terus terjadi. Tentu persaingan akan semakin keras. Di udara akan ramai dengan perdebatan, antara yang pro dan kontra. Dan di darat akan semakin seru, dengan saling sapa dan tebar pesona ke rakyat untuk menambah dukungan.

Saling gempur antar kedua kubu akan terus meningkat. Apapun strategi yang akan dimainkan dan digunakan oleh kedua kubu, jangan sampai rakyat yang menjadi korban. Rakyat harus dibahagiakan. Bukan untuk dikorbankan. Dan rakyat harus disejahterakan. Bukan untuk dinihilkan dan dinafikan.

Momentum Pilres adalah momentum untuk berkampanye, dengan janji-janji yang dapat terimplementasi. Pilpres juga harus membahagiakan, menyenangkan, dan membanggakan. Momentum adu kekuatan capres dan cawapres, untuk memberdayakan dan mencerahkan. Bukan untuk saling menyingkirkan dan menjatuhkan. Narasi yang dikembangkan dua kubu, haruslah penuh kebaikan. Bukan nyinyiran. Bukankah begitu.

Komentar Anda ?

Leave a Reply