Prabowo Tidak Berkampanye di Reuni 212, Ini Penjelasan Hinca Pandjaitan

Sulselku – Sekretaris Jenderal Partai Demorkat Politikus Hinca Pandjaitan tidak sependapat dengan opini yang menyebutkan reuni alumni aksi 2 Desember di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, hari Minggu lalu, ditunggangi politikus untuk kepentingan politik mereka.

“Tidak relevan menarik-narik pertemuan di Monas dengan pilpres. Karena di pilpres ada aturan mainnya. Sedangkan kemarin itu tidak ada membawa simbol-simbol kampanye,” kata Hinca Pandjaitan di Medan, Sumatera Utara, Jumat (7/12).

Menurut dia bisa disebut menggunakan aksi itu sebagai kampanye kalau ada pasangan calon presiden dan wakil presiden, alat peraga, dan ada ajakan-ajakan untuk memilih. Menurut dia, di acara yang berlangsung di Monas tidak memenuhi unsur kampanye.

“Kalaupun ada, baru Pak Prabowo seorang diri. Dan dia tidak ada mengajak untuk memilih. Kalau satu unsur itu tidak terpenuhi, bukan kampanye. Simple saja,” ujar Hinca Pandjaitan.

Hinca Pandjaitan juga menyayangkan sikap media massa nasional yang tidak memberitakan reuni tersebut, padahal menurutnya seharusnya layak jadi berita besar.

“Siapapun yang ditanya baik mahasiswa maupun dosen, pasti akan mengatakan peristiwa yang di Monas layak untuk diberitakan bahkan dimuat di halaman satu. Sebagai mantan dewan pers saya kecewa aksi 212 tidak diliput media,” kata dia.

Menurut laporan Antara, Direktur Lembaga Pemilih Indonesia Boni Hargens menyayangkan sejumlah politikus menunggangi reuni 212 untuk kepentingan politik mereka.

“Masyarakat Islam yang berkumpul di Monas dan sekitarnya. Namun, disayangkan panggung itu diubah menjadi panggung politik oleh para politikus,” kata Boni Hargens dalam diskusi Merawat Keindonesiaan: Reuni 212 Curi Start Kampanye, Bawaslu Harus Bangun dari Tidur di Jakarta.

Menurut Boni Hargens panggung reuni 212 juga digiring menjadi panggung politik oleh sejumlah tokoh agama yang terlibat sebagai tim kampanye salah satu pasangan yang akan berkontestasi pada pemilihan umum presiden 2019.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia mendorong Badan Pengawas Pemilu untuk melakukan evaluasi secara objektif dan jernih terkait dengan pemanfaatan oleh tokoh politik pada reuni 212.

“Bawaslu jangan membuat kesimpulan yang prematur, seakan-akan hal itu tidak ada pelanggaran. Padahal, saya melihat ada spanduk pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Sandi. Ada teriakan 2019 ganti presiden. Ada lagu diputar di sana,” katanya.

Menurut Boni Hargens reuni 212 seharusnya dibiarkan menjadi ruang agama dan ruang moral, jangan diciderai dengan kepentingan politik.

Boni menaruh simpatik kepada niat umat Islam untuk menyelenggarakan reuni 212. Akan tetapi, dia juga mengutuk para politikus yang memanfaatkan reuni akbar tersebut dengan menjadikannya panggung politik.

Komentar Anda ?

Leave a Reply