PSM, Timnas dan Albania

EQLkfMzKqC
Tim PSM sedang latihan (sumber foto: sindonews)

Selesai dari sebuah acara di Malino, waktu itu tahun 1996, kami turun kembali ke kota Makassar. Mobil yang kami pakai rental. Duduk di belakang sopir memberi saya peluang untuk melihat wajah sopir. Tiba-tiba saya merasa sangat akrab dengan wajahnya. Tak tahan saya langsung bertanya, “Bapak H. Yusuf Bahang ya ?” Bapak itu menjawab,”Ya, saya Yusuf Bahang.”

Nama Yusuf Bahang adalah nama kemilau di langit sepakbola Makassar dan Indonesia akhir 60 an hingga awal 80 an. Pertama kali saya melihat ia bermain tahun 1974 di turnamen Yusuf Cup di Mattoanging. Waktu itu usia saya baru 8 tahun. Yusuf sedikit lebih senior dari Ronny Pattinasarani. Ia bagian dari generasi penyambung antara masa Ramang dengan Ronny, Syamsuddin Umar, Baco Ahmad, dan juga Anwar Ramang. Saleh Bahang, kakaknya, adalah penjaga gawang utama PSM yang kerap dipanggil ke Jakarta bergabung dengan timnas. Sayang waktu itu ia kalah bersaing dengan nama kemilau lainnya: Ronny Paslah dan Sudarno.

Sepanjang perjalanan balik ke Makassar kami asyik bincang bola masa lalu meski saya hanya mengandalkan ingatan dan juga interaksi dengan pemain yang terbatas. Mungkin karena karena waktu itu saya masih kecil. “Wah pak haji saya ingat posisita di bek kanan. Saya pernah nonton pak haji memperagakan tendangan gunting beberapa kali waktu melawan PSMS Medan. Saya ingat Nobon susah sekali melewati pak haji padahal Nobon waktu itu pemain sayap timnas yang sangat disegani bersama Waskito dari Persebaya. Hebat sekali 2 pemain itu. Perawakannya juga mirip; gempal, tidak terlalu tinggi, lari super kencang, berani adu fisik, dan keduanya botak, apalagi Waskito, cilla’na daeng ulunna..!” Pak Haji tertawa. Terus ia komen sama saya, “Usia bapak pasti lebih 40 tahun.” Saya jawab,” Saya sekarang baru menginjak 30 thn pak haji.” Yusuf Bahang terlihat sediki kaget.

Lalu Yusuf berkisah tentang prestasinya dan pengalamannya memperkuat timnas dan PSM. “Luar biasa bangganya memakai kostum PSM. Waktu itu siapapun yang berhadapan dengan kami pasti berpikir seribu kali dan wajib mempersiapkan timnya sebaik mungkin. Tapi meski sudah tdk punya lagi Ramang PSM saat itu masih sangat disegani. Apalagi kalau pakai kostum timnas e..de..de.. bangganya luar biasa. Mau mati di lapangan rasanya membela kehormatan bangsa.”
“Dan waktu itu Malaysia dan Thailand, bahkan Korea dan Jepang saja sering kalah kalau menghadapi Indonesia. Iya pak haji ?” Pancing saya.
“Oh betul itu pak. Lawan tangguh di Asia saat itu cuma Birma (sekarang Myanmar). Kami silih berganti saling mengalahkan. Tapi lebih banyak imbangnya.”

Itu pengalaman jumpa saya dengan H.Yusuf Bahang, legenda bola PSM tahun 70 -an. Setelah itu kami tak pernah ketemu lagi. Tapi 3 tahun lalu, tengah memberi ceramah terawih di sebuah mesjid yang terletak di selatan kota, tiba-tiba mata saya menangkap satu sosok yang juga cukup familiar dalam ingatan saya. Ia sudah tua meski perawakannya yang tegap masih tampak. Kulitnya gelap dan shalat dengan menggunakan bantuan kursi. Orang itu sakit tapi tentu saja ia seorang yang shaleh karena meski sakit dan harus memakai kursi, ia tetap mengejar shalat berjamaah di mesjid. Orang itu aku kenal. Ia adalah Saleh Bahang, kakak Yusuf pemilik mobil rental tadi. Hampir 2 dekade Pak Saleh, begitu panggilannya, menjadi kiper andalan PSM. Setelah pensiun barulah muncul nama Jhonny Kambang dan Johannes Deong yang kebetulan sama sama berasal dari Toraja sebagai penerus Pak Saleh.

Kehidupan sehari hari mereka sederhana, jauh dari sikap glamor yang biasa kita saksikan dari banyak pemain hari ini yang berstatus pemain klub besar, apalagi kalau sudah bergabung dengan timnas. Yang mereka peroleh selama “bekerja” sebagai pesepakbola mungkin bukan harta yang melimpah. Tapi terasa sekali bahwa mereka memiliki buncah kebanggaan bermain sebagai pesepakbola dengan idealisme martabat daerah atau bangsa. Itu yang saya rasakan dari ucapan pak haji selama ngobrol di perjalanan.

Pagi jelang sahur dini hari tadi, sekali lagi saya menyaksikan bagaimana kebanggaan membela tim negara diperlihatkan dengan cara yang mendekati kesempurnaan oleh tim Albania saat menghadapi tim sekelas Perancis. Albania memang kalah tapi itu baru dipastikan di menit menit akhir pertandingan. Pelatihnya kecewa berat. Saking kecewanya hingga ia tidak sadar memukul asistennya yang duduk disampingnya. Penonton mereka sedih. Bahkan tak sedikit yang berlinang air mata. Tapi saya yakin air mata mereka bukan air mata kekecewaan atau kekesalan. Itu adalah benda cair dari akumulasi gemuruh gelombang emosional dalam jiwa. Itu adalah gabungan rasa bangga, harapan, sekaligus kenyataan yang harus mereka terima. Anda memang kalah. Tapi itu baru terjadi setelah anda berlaga dengan ksatria, gagah, dan setelah semua tenaga dan teknik anda perlihatkan secara spartan sepanjang pertandingan. Anda kalah di turnamen, tapi saya yakin semua penonton dan rakyat negara anda dengan senang hati menganugrahkan kepada anda monumen kejuangan yang indah. Selamat Albania..!!!

Sumber Status Facebook: Surya Darma

Komentar Anda ?

Leave a Reply