Putra Kajang jadi Imam Besar di New York

Imam Shamsi Ali (sumber foto: google)
Imam Shamsi Ali (sumber foto: google)

Sulselku –Muhammad Syamsi Ali, biasa dipanggil Shamsi Ali adalah putra Kajang Bulukumba yang menjadi imam di Islamic Center of New York dan direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York, Amerika Serikat, yang dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan. Shamsi Ali aktif dalam kegiatan dakwah Islam dan komunikasi antaragama di Amerika Serikat (terutama pantai timur).

Pada masa kecilnya, Shamsi mengatakan ia memiliki jiwa pemberontak. Sewaktu remaja ia bahkan pernah memimpin anak-anak desanya berkelahi dengan anak-anak dari desa lain dan berlatih bela diri pencak silat.

“Itu hal lain yang saya suka,” kata dia. “Saya suka bertarung,” lanjutnya.

Anak ketiga dari enam bersaudara ini dibesarkan di sebuah desa berjarak enam jam perjalanan darat dari kota terdekat. Orangtuanya tidak pernah membaca Al Quran, tapi mereka menegaskan bahwa Shamsi harus mempelajarinya.

Pada usia 12 tahun dia didaftarkan di pesantren Darul Arqam, di pesantren tersebut punya peraturan disiplin yang sangat ketat, dan ia dengan cepat menjadi siswa unggulan.

“Pada awalnya, rasanya seperti penjara,” katanya, “tapi kemudian, saya mulai menyebutnya penjara ilahi.” Di sekolah, ia belajar membaca ayat-ayat Al Quran lebih indah daripada anak-anak lain. Dan, dia belajar untuk berkhotbah.

Setelah tamat dari pesantren 1987, Shamsi Ali mengabdikan diri sebagai staf pengajar di almamaternya hingga akhir 1988. Ia mendapat tawaran beasiswa dari Rabithah Alam Islami untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan. Jenjang S1 dalam bidang Tafsir diselesaikan tahun 1992 dan dilanjutkan pada universitas yang sama dan menyelesaikan jenjang S2 dalam bidang Perbandingan Agama pada tahun 1994. Selama studi S2 di Pakistan, Shamsi Ali juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad. Dari sekolah itulah kemudian mendapat tawaran untuk mengajar pada the Islamic Education Foundation, Jeddah, Arab Saudi pada awal tahun 1995.

Pada musim haji tahun 1996, Shamsi Ali mendapat amanah untuk berceramah di Konsulat Jenderal RI Jeddah di Arab Saudi. Dari sanalah bertemu dengan beberapa jamaah haji luar negeri, termasuk Dubes RI untuk PBB, yang sekaligus menawarkan kepadanya untuk datang ke New York, AS. Tawaran ini kemudian diterima Shamsi Ali dan ia pindah ke New York pada awal tahun 1997.

Memimpin umat Islam di kota besar macam New York bukan perkara gampang, terlebih sejak peristiwa 11 September 2001. Namun Shamsi Ali, imam masjid kota New York kelahiran Tanah Toa, Sulawesi Selatan, ini berhasil menyatukan komunitas Muslim dan non-Muslim di kota itu.

Selama satu dekade, dia selalu berada di mimbar masjid terbesar di New York, Islamic Cultural Center. Di sinilah Shamsi Ali menyampaikan khotbah tentang nilai-nilai demokrasi dan mengecam ekstremis kepada ribuan jemaah.

Di luar masjid, dia mengajarkan kepada FBI dan anggota Kongres tentang hubungan antaragama. Dan, tidak seperti pemuka agama konservatif yang melarang musik, Ali justru menyukai musik rap dan musik hip-hop mogul Russell Simmons. (Penulis/wikipedia/kompas)

Komentar Anda ?

Leave a Reply